
Selawe.com – Guru dan karyawan SD Muhammadiyah 1 GKB (Mugeb PS) menggelar kegiatan Deep Talk with Ramadhan pada Senin (17/03/26) sebagai upaya mengisi bulan suci dengan penguatan ideologi.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Averroes Mugeb PS ini menghadirkan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gresik, Ustaz M. Thoha Mahsun, S.Ag., M.HES sebagai narasumber utama dengan tema “10 Malam Terakhir: Final Battle, Saatnya Gaspol Ibadah!”. Tujuannya adalah meningkatkan motivasi peserta dalam meraih keberkahan Ramadan, khususnya di sepuluh malam terakhir.
Kajian dibuka oleh Ustaz Thoha—sapaan akrabnya—dengan menyampaikan hadis tentang teladan Rasulullah pada sepuluh malam terakhir Ramadan yang diriwayatkan oleh Muttafaqun ‘Alaih. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
“Rasulullah ﷺ dahulu, apabila telah masuk sepuluh malam terakhir (bulan Ramadan), beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, serta bersungguh-sungguh dan mengencangkan ikatan sarung.”
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa frasa syadda mi’zarahu atau “mengencangkan sarung” memiliki dua makna. Pertama, sebagai kiasan bahwa Rasulullah meninggalkan hubungan suami istri demi fokus beribadah kepada Allah. Kedua, sebagai ungkapan kesungguhan dan kerja keras dalam beribadah, layaknya seseorang yang menyingsingkan lengan baju untuk bekerja berat.
Menurut Imam Syafi’i, menghidupkan malam bukan sekadar terjaga, tetapi mengisi seluruh waktu malam dengan berbagai bentuk ketaatan. Tidak hanya salat, tetapi juga memperbanyak tilawah, zikir, dan doa.
“Makna gaspol sesungguhnya tidak menyisakan ruang kemalasan,” ujar Thoha saat menyampaikan materinya.
Lailatul Qadar, Motivasi Terbesar Gaspol Ibadah
Ustaz Thoha juga menceritakan kisah sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab, yang memiliki kebiasaan membangunkan keluarganya di tengah malam sambil membaca ayat-ayat Al-Qur’an untuk memotivasi mereka meraih Lailatul Qadar.
“Ini menunjukkan bahwa 10 malam terakhir bukan hanya urusan individu, melainkan upaya kolektif dalam sebuah keluarga meraih ridha Allah,” terang Ustaz Thoha.
“Kita tidak tahu pasti kapan Lailatul Qadar terjadi, maka kita harus gaspol di 10 malam terakhir,” lanjutnya.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa hati yang sibuk dengan urusan dunia akan sulit menangkap sinyal keberkahan Lailatul Qadar. Oleh karena itu, gaspol ibadah juga berarti melakukan “detoksifikasi hati” dari berbagai penyakit duniawi.
Instrumen Utama Gaspol Ibadah
Ustaz Thoha memaparkan bahwa salah satu instrumen utama dalam memaksimalkan ibadah pada sepuluh hari terakhir Ramadan adalah dengan membersihkan jiwa melalui i’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Namun, bagi yang memiliki uzur sehingga tidak memungkinkan melaksanakan i’tikaf di masjid, dapat menggantinya dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, serta melaksanakan qiyamul lail di rumah.
“Di penghujung Ramadan, hal yang kita butuhkan tidak sekadar pahala, melainkan maaf dari Allah SWT,” tutur Ustaz Thoha menutup materinya.
Kegiatan penguatan tersebut dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Salah seorang ustaz Mugeb PS, A. Mujahidul Authon, S.Pd., mengutarakan keresahannya terkait maraknya orang-orang yang semakin terang-terangan tidak berpuasa di bulan Ramadan, ditandai dengan masih beroperasinya sejumlah warung makan di pagi hari.
Ia menyayangkan kondisi tersebut karena menunjukkan adanya kecenderungan sebagian masyarakat yang mulai menyepelekan kesucian Ramadan. Menanggapi hal itu, Ustaz Thoha mengingatkan bahwa yang dapat dilakukan adalah menumbuhkan ghirah (kepedulian) dengan terus mendoakan sesama agar kembali ke jalan yang lurus. Ia juga berharap pemerintah dapat menegakkan aturan secara tegas.
Selama kurang lebih 90 menit kajian berlangsung, acara kemudian ditutup oleh moderator, Ustaz Agus Suprayitno, dengan frasa MOKEL: M (Mari mengaji), O (Obati hati dengan selawat), K (Kita bersedekah), E (Emosi dikontrol), dan L (Lebih baik kita salat). Frasa tersebut langsung disambut tepuk tangan meriah dari para peserta. (*)
Penulis Lailatul Mabadi Chaira Editor Sayyidah Nuriyah












