Liputan

Kepribadian Muhammadiyah dan Jalan Internalisasi Nilainya

9
×

Kepribadian Muhammadiyah dan Jalan Internalisasi Nilainya

Sebarkan artikel ini
Pengajian Ramadan MGKB
Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni, MA. saat menyampaikan materi di Pengajian Ramadan 1447 H yang diadakan Majelis Dikdasmen dan PNF PCM GKB di Masjid Al Mizan Smamio, Sabtu (28/2/2026)

Selawe.co – Internalisasi nilai Muhammadiyah harus bertumpu pada pemahaman terhadap Kepribadian Muhammadiyah sekaligus proses pembinaan yang berkelanjutan.

Hal ini disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni, MA. dalam Pengajian Ramadan 1447 H dalam Pengajian Ramadan 1447 H yang diselenggarakan Majelis Dikdasmen dan PNF PCM GKB Gresik, Sabtu (28/2/2026).

Prof. Syafiq A. Mughni menjelaskan kepribadian Muhammadiyah menjadi pedoman moral dan arah gerak warga persyarikatan dalam beragama, berorganisasi, dan bermasyarakat.

Ada sepuluh ciri utama kepribadian Muhammmadiyah. Pertama, beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan. Muhammadiyah hadir membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

Kedua, memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah. Mengedepankan persatuan dalam dakwah. Ketiga, lapang dada dan luas pandangan dengan memegang teguh ajaran Islam. Tetap teguh pada prinsip tanpa bersikap sempit dalam perbedaan.

Keempat, bersifat keagamaan dan kemasyarakatan. Dakwah mencakup aspek spiritual sekaligus sosial. Kelima, mengindahkan hukum, undang-undang, dan dasar negara yang sah. Berkomitmen pada kehidupan berbangsa yang konstitusional.

Keenam, amar ma’ruf nahi munkar dalam segala lapangan. Mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ketujuh, aktif dalam ishlah dan pembangunan Masyarakat. Turut memperbaiki kehidupan sosial.

Kedelapan, berja sama dengan golongan Islam lain. Bersinergi untuk kemaslahatan umat. Kesembilan, membantu pemerintah dalam usaha yang baik. Berkontribusi dalam pembangunan bangsa.

“Kesempuluh adalah bersifat adil dan korektif. Mengedepankan sikap membangun demi kemajuan Bersama,” jelasnya.

Internalisasi Nilai Muhammadiyah

Prof. Syafiq juga menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut tidak akan hidup tanpa proses internalisasi. Internalisasi dapat ditempuh melalui kaderisasi formal, keteladanan tokoh Muhammadiyah, Pendidikan, pengajian, dialog dan diskusi, keterlibatan di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), dan kegiatan dalam organisasi.

“Seluruhnya merupakan jalan untuk menanamkan nilai Muhammadiyah agar tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga dihayati dalam praktik kehidupan,” ungkapnya.

Melalui proses ini, tambahnya, warga Muhammadiyah diharapkan mampu menjadikan nilai persyarikatan sebagai bagian dari sikap hidup dan gerakan dakwah. (*)

Penulis Ain Nurwindasari. Editor Ichwan Arif.