Ngilmui Siyam

Panggung Kesalehan di Era Media Sosial

10
×

Panggung Kesalehan di Era Media Sosial

Sebarkan artikel ini

Kesalehan mengalami pergeseran makna. Religiusitas di ruang digital memicu pertanyaan: ibadah tulus atau pencarian validasi publik?Ilustrasi AI

Kesalehan mengalami pergeseran makna. Religiusitas di ruang digital memicu pertanyaan: ibadah tulus atau pencarian validasi publik?

Oleh Fitri Wulandari, S.Pd., Guru SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik

Selawe.com – Di era media sosial, kesalehan tak lagi hanya hidup di ruang ibadah. Ia juga tampil di layar gawai, dalam bentuk unggahan ayat, foto ibadah, atau kutipan religius yang dibagikan kepada publik.

Perkembangan teknologi digital membuka ruang baru bagi manusia untuk mengekspresikan dirinya. Kehidupan tidak lagi berlangsung hanya di dunia nyata. Ada ruang kedua yang kini tak terpisahkan: dunia maya.

Media sosial menjadi panggung baru bagi identitas manusia. Di sana, orang menampilkan aktivitas harian, pandangan sosial, hingga ekspresi religiusitas. Batas antara ruang pribadi dan ruang publik semakin tipis.

Kesalehan pun ikut mengalami perubahan makna. Dahulu, ia lebih bersifat personal dan privat. Kini, kesalehan sering muncul sebagai ekspresi publik yang dapat dilihat banyak orang.

Fenomena ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai dekonstruksi kesalehan. Makna kesalehan bergeser dari pengalaman spiritual yang sunyi menjadi simbol yang tampak di ruang digital.

Di dunia nyata, kesalehan diukur dari akhlak dan perilaku. Ia tampak dalam kejujuran, kepedulian, serta ketaatan menjalankan perintah agama. Nilai itu hidup dalam keseharian. Namun di media sosial, ukuran kesalehan sering bergeser pada simbol visual. Unggahan ayat Al-Qur’an, foto kegiatan ibadah, atau kutipan religius sering dianggap mewakili religiusitas seseorang.

Tentu tidak semua ekspresi tersebut bermasalah. Banyak orang menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah dan berbagi kebaikan. Konten religius dapat menjadi pengingat bagi banyak orang.

Masalah muncul ketika kesalehan berubah menjadi sesuatu yang harus ditampilkan. Ketika kebaikan diunggah bukan untuk berbagi manfaat, tetapi untuk mendapatkan pengakuan. Di titik inilah ruang digital dapat menggeser makna religiusitas itu sendiri.

Ketakwaan yang Tak Terlihat

Dalam Islam, kesalehan tidak terukur dari seberapa banyak orang melihat amal seseorang. Ukurannya adalah ketakwaan yang tumbuh di dalam hati.

Al-Qur’an menegaskan bahwa status sosial ataupun penilaian publik tidak menentukan kemuliaan manusia. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kesalehan adalah dimensi batin. Ia tidak selalu tampak oleh manusia. Sementara itu, ketakwaan adalah hubungan spiritual yang sangat personal antara manusia dan Tuhannya. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa Allah selalu melihat setiap perbuatan manusia.

Kesadaran ini membentuk integritas spiritual. Seseorang tetap berbuat baik, baik ketika orang lain melihat maupun ketika sendirian. Namun media sosial menghadirkan dinamika baru. Platform digital sangat menekankan aspek visual. Sesuatu yang terlihat sering dianggap lebih bernilai.

Dalam konteks ini, religiusitas dapat berubah menjadi citra. Penampilan religius menjadi bagian dari representasi diri. Seseorang mungkin, secara sadar atau tidak, membangun citra kesalehan di ruang digital. Motivasinya beragam: ingin berbagi kebaikan, ingin menginspirasi, atau sekadar mencari pengakuan.

Budaya validasi di media sosial memperkuat dorongan ini. Like, komentar, dan jumlah pengikut menjadi ukuran popularitas. Akibatnya, kesalehan berisiko berubah menjadi performa sosial. Ia tidak lagi sekadar pengalaman spiritual, tetapi juga menjadi bagian dari citra diri di ruang publik digital.

Refleksi di Tengah Budaya Validasi

Dunia digital sering menghadirkan paradoks. Seseorang dapat terlihat sangat religius di media sosial. Namun, hal itu belum tentu sejalan dengan perilaku kesehariannya. Fenomena ini menunjukkan adanya jarak antara kesalehan nyata dan kesalehan virtual. Apa yang terlihat di layar tidak selalu mencerminkan realitas.

Di sinilah pentingnya refleksi spiritual. Dekonstruksi kesalehan bukan untuk menolak ekspresi religius di media sosial. Ia justru mengajak kita memahami makna kesalehan secara lebih jernih.

Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Ia dapat menjadi sarana kebaikan jika melakukannya dengan niat yang tulus. Banyak pesan kebaikan tersebar melalui platform digital. Namun media sosial juga dapat menjadi jebakan. Terutama ketika kebaikan hanya demi validasi publik.

Karena itu, refleksi diri menjadi penting. Setiap orang perlu bertanya pada dirinya sendiri: apakah kebaikannya benar-benar karena Allah, atau karena ingin dilihat manusia? Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya menentukan kualitas spiritual seseorang.

Pada akhirnya, kesalehan sejati tidak memerlukan panggung. Ia tumbuh dalam keheningan hati. Ia hadir dalam doa yang tidak orang lain ketahui.

Kesalehan juga hidup dalam kebaikan kecil yang tanpa perlu diumumkan. Nilai spiritual itu tidak dapat tertangkap kamera atau layar gawai. Tempatnya bukan di media sosial. Ia berada di ruang terdalam hati manusia yang tulus beribadah kepada Sang Maha Pencipta.

Kesalehan di era media sosial mengalami pergeseran makna. Religiusitas tampil di ruang digital dan memicu pertanyaan: ibadah tulus atau sekadar pencarian validasi publik. (*)

Editor: Sayyidah Nuriyah