Blog

Apakah Al-Qur’an Sudah Kita Jadikan Petunjuk?

23
×

Apakah Al-Qur’an Sudah Kita Jadikan Petunjuk?

Sebarkan artikel ini
AlQuran adalah Petunjuk
Ilustrasi opini Apakah Al-Qur’an Sudah Kita Jadikan Petunjuk? (Al)

Perubahan akan terjadi ketika kita menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk berpikir, petunjuk bersikap, dan petunjuk bertindak.

Oleh M. Nor Qomari, S.Si., guru SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik

Selawe.com –  “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

Ramadan 1447 H memasuki hari ke-20. Ramadan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an. Mengapa demikian? Karena pada Ramadan Al-Qur’an pertama kali diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia, tepat pada malam Lailatulqadar.

Peristiwa ini menjadi awal turunnya wahyu yang kemudian disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW secara bertahap selama 23 tahun.

Ramadan adalah momentum turunnya petunjuk bagi manusia. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak tilawah (membaca), tadabbur (merenungi), dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya, hingga Ramadan memasuki hari ke-20 ini, sudah sampai di mana interaksi kita dengan Al-Qur’an?

Mungkin di antara kita ada yang sudah khatam tiga kali, Khatam dua kali, ada yang baru 20 juz, 10 juz, atau bahkan masih 5 Juz. Setiap orang memiliki capaian yang berbeda.

Namun, di balik jumlah bacaan itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar: sudahkah Al-Qur’an benar-benar kita jadikan petunjuk hidup?

Sejarah menunjukkan betapa luar biasanya pengaruh Al-Qur’an ketika benar-benar dijadikan pedoman hidup. Selama 23 tahun masa turunnya wahyu, Al-Qur’an mampu mengubah masyarakat Arab dari kehidupan jahiliyah menuju peradaban yang berkeadilan.

Tokoh-tokoh besar Islam juga lahir dari proses perubahan itu. Abu Bakar yang sebelumnya seorang pedagang kain, Umar yang dikenal keras dan ditakuti di pasar, Bilal seorang budak yang tidak memiliki nilai di mata masyarakat.

Mereka bukan berasal dari kalangan istimewa, tidak memiliki privilese kekuasaan, maupun pendidikan terbaik pada masanya. Namun ketika mereka menjadikan mendapatkan kebenaran Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, lahirlah perubahan besar dalam sejarah peradaban manusia.

Lalu muncul pertanyaan penting kembali untuk kita hari ini: mengapa pada zaman sekarang, ketika Al-Qur’an telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa, tersedia ribuan kitab tafsir, dan akses ceramah agama dapat ditemukan dengan mudah, perubahan yang terjadi tidak sebesar pada masa para sahabat?

Salah satu jawabannya mungkin terletak pada cara kita berinteraksi dengan Al-Qur’an. Para sahabat tidak hanya membaca ayat-ayatAl Quran, tetapi juga memahami dan mengamalkannya secara langsung.

Abdullah bin Mas’ud (tercatat dalam Tafsir Ibnu Katsir) menegaskan metode sahabat Nabi SAW dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an: fokus pada kualitas, bukan kuantitas. Mereka mempelajari 10 ayat, memahami maknanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sebelum lanjut ke ayat berikutnya..

Bagi para sahabat, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang harus diselesaikan, melainkan petunjuk yang harus dijalankan.

Mereka tidak membaca Al-Qur’an hanya untuk mengejar target khatam, memperoleh sertifikat hafalan, atau sekadar menjadi lantunan yang indah. Al-Qur’an mereka baca sebagai panduan hidup. Setiap ayat mengandung pertanyaan: apa yang Allah perintahkan untuk dilakukan sekarang?

Tanpa kita sadari, dalam perjalanan waktu terjadi pergeseran cara pandang. Al-Qur’an yang dahulu menjadi peta kehidupan, terkadang berubah hanya menjadi sumber pahala yang dikumpulkan, bukan pada perubahan perilaku.

Padahal para sahabat menunjukkan teladan yang berbeda. Ketika Abu Bakar membaca ayat tentang memerdekakan budak, ia langsung pergi ke pasar untuk membeli dan membebaskan Bilal.

Ketika Umar merenungi ayat tentang bahaya menimbun harta, ia tersentuh hingga akhirnya mewakafkan kebun kurmanya. Mereka tidak berhenti pada kekaguman terhadap keindahan ayat, tetapi segera bergerak menjalankan pesan yang terkandung di dalamnya.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Ibrahim ayat 1 yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan menuju cahaya dengan izin Tuhan mereka.

Pada akhirnya, dunia yang ingin Allah ubah melalui Al-Qur’an tidak akan berubah hanya dengan membacanya semata. Perubahan akan terjadi ketika kita menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk berpikir, petunjuk bersikap, dan petunjuk bertindak.

Ramadan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan ini adalah kesempatan terbaik untuk memperbaiki hubungan kita dengan Al-Qur’an. Tidak hanya memperbanyak bacaan, tetapi juga memperdalam pemahaman dan menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Editor Ichwan Arif

Ilustrasi Opini Itikaf Hati 1
Blog

Jika i’tikaf adalah soal “pemutusan hubungan,” satu kesibukan…