Ngilmui Siyam

Menjadi Pendamai melalui Madrasah Ramadan

14
×

Menjadi Pendamai melalui Madrasah Ramadan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi opini Menjadi Pendamai melalui Madrasah Ramadan
Ilustrasi opini Menjadi Pendamai melalui Madrasah Ramadan (Al)

Nilai-nilai ini sangat sejalan dengan pendidikan Ramadan: menahan diri, menjaga lisan, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Oleh Dina Hanif Mufidah, M.Pd., guru SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik

Selawe.com –  Ramadan adalah madrasah, di mana umat Islam dididik dan dilatih menahan amarah, menata hati, dan memperbaiki hubungan dengan sesama, bukan sekadar  menahan lapar dan dahaga.

Karenanya, Ramadan menjadi momentum memperkuat kembali nilai persaudaraan, terutama ketika terjadi retakan-retakan dalam relasi sosial.

Dalam Qs. Al Hujurat Aayat 10 , Allah SWT berfirman, “Innamal mu’minuuna ikhwatun fa-ashlihuu baina akhawaikum wattaqullaha la’allakum turhamuun.”

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Ayat ini menegaskan bahwa konflik tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Ketika dua pihak berselisih, yang lain dianjurkan untuk hadir sebagai penjaga ukhuwah, untuk menjadi penengah yang membantu mempertemukan kembali hati yang tak lagi harmonis.

Namun dalam kehidupan sehari-hari, praktiknya tidak mudah. Ada kecenderungan kita  untuk menyederhanakan penyelesaian konflik dengan  kalimat sederhana: “Sudahlah, dimaafkan saja.” Niatnya  baik, tetapi tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan kalimat serupa.

Islam mengajarkan tabayun, yakni memahami duduk perkara secara utuh sebelum mengambil sikap. Tanpa memahami akar masalahnya, perdamaian sering hanya menjadi formalitas—sekadar berjabat tangan di permukaan, sementara luka batin tetap tersimpan utuh. Ini bisa menjadi bom waktu.

Dalam dunia pendidikan, khususnya di sekolah,  pelajaran ini  dirasakan nyata oleh para guru, terutama wali kelas yang bertanggungjawab secara moral dan mental serta akademik maupun non akademik bagi siswa di kelasnya.

Wali kelas bukan hanya pengajar, tetapi juga saksi kehidupan sosial murid sehari-hari di sekolah. Mereka melihat bagaimana para murid berinteraksi, mengetahui karakter masing-masing, serta memahami kebiasaan mereka dalam belajar maupun bersosialisasi.

Ada  yang mudah bercanda tetapi sering tanpa sadar melukai atau menyakiti perasaan temannya. Ada yang pendiam namun perasaannya sensitif. Ada pula yang reaktif, mudah tersulut emosi. Pemahaman terhadap karakter-karakter ini menjadi kunci ketika konflik terjadi di antara mereka.

Seorang wali kelas juga biasanya sedikit banyak mengenal latar belakang keluarga siswa. Ada orang tua yang sangat protektif.

Ada yang lebih santai dan memberi ruang anak belajar dari kesalahan mereka. Ada pula yang sangat disiplin dan hanya berorientasi prestasi. Perbedaan gaya pengasuhan inilah yang   memengaruhi cara orang tua memandang  konflik yang dialami anak anak mereka.

Tidak jarang, perselisihan kecil antar murid berkembang menjadi ketegangan antar orang tua. Seorang anak pulang ke rumah membawa cerita versinya sendiri. Orang tua yang mendengar dengan emosi bisa saja langsung merasa anaknya diperlakukan tidak adil.

Di sinilah kebijaksanaan seorang pendidik diuji. Peran wali kelas bukan sekadar mempertemukan dua pihak untuk saling meminta maaf. Ia perlu menghadirkan ruang tabayun yang tenang, menjelaskan fakta berdasarkan pengamatan di kelas, serta membantu semua pihak melihat persoalan secara lebih proporsional. Dengan pendekatan yang adil dan empatik, konflik yang semula memanas bisa mereda.

Lebih dari itu, situasi seperti ini sebenarnya adalah ruang pendidikan karakter. Guru dapat mengajak siswa belajar tentang empati, tanggung jawab atas ucapan dan tindakan, serta kemampuan mengelola emosi.

Nilai-nilai ini sangat sejalan dengan pendidikan Ramadhan: menahan diri, menjaga lisan, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Namun demikian, mendamaikan tidak selalu berarti mengembalikan hubungan persis seperti sebelumnya. Dalam beberapa situasi, menciptakan batasan yang sehat justru menjadi solusi yang lebih bijak.

Misalnya dengan menata ulang kelompok kerja di kelas, mengatur posisi duduk yang berbeda, atau membimbing siswa agar belajar berinteraksi secara lebih dewasa tanpa harus memaksakan kedekatan yang sama.

Dalam sebuah hadis, kita diingatkan tentang salah satu  prinsip penting dalam hubungan antar manusia: “La dharara wa la dhirār.” “Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh saling membahayakan.” (HR. Ibnu Majah)

Prinsip ini menegaskan bahwa menjaga diri dari mudharat adalah bagian dari ajaran Islam. Karena itu, menjaga jarak yang sehat bukan berarti memutus persaudaraan, melainkan mengelola hubungan agar tidak menimbulkan luka yang berulang atau bahkan lebih dalam. Kita menyebut ini dengan istilah menjaga batasan (setting boundaries).

Madrasah Ramadan pada akhirnya mengajarkan bahwa memperbaiki hubungan tidak selalu berarti kembali seperti dulu.

Kadang yang lebih penting adalah membersihkan hati dari dendam, membuka ruang maaf, dan tetap mendoakan kebaikan bagi orang lain, meskipunsituasi tidak memungkinkan untuk seakrab dan sehangat duu lagi.

Di madrasah Ramadan ini, setiap pendidik—dan sebenarnya setiap orang—dipanggil untuk menjadi penjaga persaudaraan. Bukan sekadar menyuruh orang berdamai, tetapi membantu mereka memahami satu sama lain dengan lebih bijak.

Karena pada akhirnya, sebagaimana pesan Al-Hujurat ayat 10, rahmat Allah tidak hanya turun kepada mereka yang berdamai, tetapi juga kepada mereka yang membantu menjaga persaudaraan atau hubungan baik  dengan hati yang jernih dan niat yang tulus. (*)

Editor Ichwan Arif