Liputan

Berani Berkata “Tidak” Tanpa Menyakiti Teman

13
×

Berani Berkata “Tidak” Tanpa Menyakiti Teman

Sebarkan artikel ini
SD Mugeb
Guru Bimbingan Konseling Dwi Apriliah Pratiwi, S.Psi. saat berkomunikasi dengan siswa kelas III saat menyampaikan materi

Selawe.com – Dwi Apriliah Pratiwi, S.Psi. membekali siswa kelas III SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik keterampilan menghadapi peer pressure agar mampu menjaga diri dan berani mengambil keputusan yang tepat.

Suara siswa kelas III memenuhi aula lantai 2 SD Muhammadiyah 1 GKB (Mugeb Primary School) Gresik, Kamis siang (9 /4/2026). Di depan barisan, Dwi Apriliah Pratiwi S.Psi. berdiri dengan hangat menyapa para siswa dalam sesi BK Goes to Class.

Guru Bimbingan Konseling yang akrab disapa Tiwi ini membawa misi penting: mengenalkan konsep peer pressure atau tekanan teman sebaya kepada anak-anak sejak dini.

Tiwi menjelaskan, teman sebaya memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tidak semua pengaruh tersebut berdampak positif. Kadang kala, teman justru menekan untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan.

“Penting bagi kalian untuk mengenali kapan teman memberikan tekanan itu,” ujar Tiwi di hadapan para siswa yang menyimak dengan saksama.

Ia memaparkan bahwa peer pressure bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari ajakan membolos sekolah, mencoba makanan tidak sehat, hingga melakukan permainan yang membahayakan keselamatan.

Tiwi memberikan simulasi sederhana jika seorang siswa dipaksa membeli makanan yang kurang bergizi. “Kalau ada teman mengajak beli mi instan, anak-anak bisa menjawab: Gak mau. Aku sudah sering makan mi,” tuturnya memberi contoh.

Tantangan Spontan dan Respon Kreatif Siswa

Suasana semakin hidup saat Tiwi melontarkan tantangan bagi siswa untuk menyebutkan contoh tekanan teman yang pernah mereka temui atau bayangkan. Gendhis Aisyah Prameswari, siswi kelas III Ceko yang duduk di barisan depan, langsung mengangkat tangan dengan antusias.

Ia menyebutkan contoh tindakan yang cukup berisiko di lingkungan sekolah. “Contohnya mengajak teman untuk membuat guru marah,” jawab Gendhis lugas.

Tak mau kalah, Raffasya Arsyanendra dari kelas III Brunei Darussalam ikut bersuara. Ia menyoroti perilaku verbal yang sering muncul di pergaulan anak-anak.

Menurutnya, salah satu bentuk tekanan adalah ketika ada seseorang yang memaksa temannya untuk berkata kasar. Interaksi ini menunjukkan bahwa para siswa mulai memahami bahwa tekanan teman tidak selalu berupa tindakan fisik, tetapi juga perilaku lisan.

Tiwi menekankan bahwa berkata “tidak” merupakan keterampilan hidup yang sangat vital. Kemampuan ini bukan sekadar penolakan, melainkan cara anak-anak melindungi diri dan menjaga integritas pribadi.

Dengan berani menolak ajakan buruk, siswa belajar menjaga diri agar tetap aman, tetap menjadi diri sendiri, dan mampu membuat keputusan yang baik untuk masa depan mereka.

Strategi Menolak Tanpa Menyakiti

Menolak ajakan teman memang bukan perkara mudah bagi anak-anak yang memiliki kecenderungan ingin diterima oleh kelompoknya. Oleh karena itu, Tiwi membagikan tiga langkah praktis: katakan dengan tegas namun tetap sopan, tawarkan alasan yang jelas, dan carilah lingkaran pertemanan yang mendukung hal-hal positif.

“Ingat, kalian berhak menjaga diri sendiri dan membuat keputusan yang baik untuk diri kalian sendiri,” tegasnya.

Siswa kelas III Denmark, Luigi Kautsarrazky, memberikan jawaban kreatif saat Tiwi menanyakan contoh alasan yang jelas untuk menolak. Dengan gaya khas anak-anak, Luigi melontarkan kalimat yang mengundang tawa sekaligus kagum.

“Nggak mau ah. Bosen. Ngajaknya sama, gitu terus,” ucapnya menirukan gaya menolak yang santai namun efektif.

Kekuatan untuk berkata tidak ini membawa segudang manfaat. Selain tubuh menjadi lebih sehat dan aman dari risiko bahaya, anak-anak yang berani bersikap jujur justru akan mendapatkan penghargaan dari teman-teman yang baik.

Keberanian ini secara otomatis memupuk rasa percaya diri yang kuat dalam diri setiap siswa, karena mereka sadar bahwa teman belum tentu selalu mengajak pada kebaikan.

Keberanian dari Pengalaman Masa Kecil

Sesi BK Goes to Class ini juga menjadi ruang bagi siswa untuk berbagi pengalaman pribadi. Kiyasa Khalwa Hibatillah, siswi kelas III Denmark, menceritakan transformasinya dalam berkomunikasi. Ia mengenang masa ketika dirinya masih lebih kecil dan merasa sangat takut untuk sekadar menjawab atau menyatakan pendapat.

“Lama-kelamaan aku jadi berani untuk menjawab,” ungkap Kiyasa dengan bangga.

Pengalaman berbeda datang dari Devano Arshaka W. asal kelas III Arab Saudi. Ia menceritakan momen ketika dirinya harus berhadapan dengan tekanan dari anggota keluarganya sendiri.

Devano pernah diajak oleh saudaranya untuk pergi ke kolam renang yang memiliki kedalaman di luar kemampuannya. Tanpa ragu, ia memilih untuk menjaga keselamatannya sendiri.

“Aku tolak saja karena aku belum terlalu lancar berenang,” cerita Devano.

Sikap Devano ini menjadi contoh nyata dari materi yang disampaikan Tiwi bahwa keselamatan diri harus menjadi prioritas utama di atas rasa sungkan terhadap orang lain. Melalui kegiatan ini, SD Mugeb berharap para siswanya tumbuh menjadi pribadi yang memiliki prinsip kuat dan tidak mudah goyah oleh arus pergaulan yang negatif. (*)

Penulis Sayyidah Nuriyah. Editor Ichwan Arif.