Liputan

Huru-hara Hajar Aswad, Saat Murid Mugeb Belajar Kepemimpinan Rasulullah

17
×

Huru-hara Hajar Aswad, Saat Murid Mugeb Belajar Kepemimpinan Rasulullah

Sebarkan artikel ini

Inspiring Maulid di SD Muhammadiyah GKB Gresik menghadirkan dongeng tentang Hajar Aswad dan keteladanan Rasulullah sebagai pemimpin yang adil.

Selawe.com – Pagi itu, lapangan SD Muhammadiyah GKB Gresik (Mugeb Primary School) dipenuhi murid kelas IV sampai VI. Mereka baru saja menyukseskan paper mob membentuk tulisan Arab “Muhammad” sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi bertajuk Inspiring Maulid, Jumat (28/8/2026).

Setelah paper mob selesai, anak-anak tidak langsung beranjak dari lapangan. Mereka duduk bersama di bawah naungan pepohonan yang rindang. Udara pagi yang sejuk menjadi teman ketika seorang pendongeng mulai mengambil perhatian mereka.

Kak Awa hadir bersama boneka tangan kesayangannya, Si Nduk atau Genduk. “Hari ini kita memperingati Maulid Nabi. Nabi kita siapa?”

“Muhammad!” jawab anak-anak serempak.

Pertanyaan sederhana itu menjadi pintu masuk menuju kisah perjalanan hidup Rasulullah. Kak Awa kemudian mengajak anak-anak menyelami dongeng berjudul Huru-Hara Hajar Aswad.

Suasana berubah menjadi lebih hidup ketika ia mulai memainkan suara dan karakter. “Kukuruyuk!” Suara ayam berkokok mengawali kisah.

Boneka tangan Genduk, dengan suara mungilnya, ikut menyahut, “Aku bangun pagi, salat Subuh.”

Anak-anak pun diajak mengenal kehidupan masyarakat Quraisy di Makkah. Di antara banyak bani yang ada, terdapat Bani Hasyim, tempat Rasulullah berasal.

“Oek, oek, oek!” Tangisan bayi memecah suasana dalam dongeng. Bayi laki-laki itu adalah Muhammad bin Abdullah.

Kak Awa lalu mengisahkan masa muda Rasulullah. Muhammad dikenal sebagai seorang pedagang yang jujur dan amanah.

“Amanah itu apa?” tanya Genduk.

“Dapat dipercaya,” jawab Kak Awa.

Dari percakapan sederhana itu, anak-anak belajar, menjadi orang yang dapat dipercaya merupakan salah satu akhlak penting yang dicontohkan Rasulullah. Kejujuran beliau dalam berdagang membuat masyarakat Quraisy memberikan gelar Al-Amin, sosok yang dapat dipercaya.

Ketika Hajar Aswad Menjadi Perebutan

Kisah kemudian bergerak menuju Ka’bah. Kaum Quraisy bekerja sama memindahkan Hajar Aswad. Rasulullah pun ikut membantu. Kak Awa menghubungkan kisah itu dengan kehidupan anak-anak.

“Teman-teman pernah bekerja sama dengan teman?”

Pertanyaan tersebut membuat kisah terasa dekat. Anak-anak tidak hanya mendengarkan cerita tentang masa lalu, tetapi diajak menemukan pengalaman mereka sendiri tentang bekerja sama.

Namun, persoalan muncul ketika pembangunan Ka’bah hampir selesai. Saat Hajar Aswad hendak dikembalikan ke tempatnya para pemimpin kabilah Quraisy justru berselisih. Masing-masing ingin mendapatkan kehormatan untuk memindahkan batu tersebut.

Perdebatan semakin memanas. Bani-bani terkuat di kalangan Quraisy saling mempertahankan pendapat hingga nyaris terjadi pertengkaran.

Di tengah suasana itu, muncul sebuah usulan. “Bagaimana kalau Al-Amin saja yang memutuskan perkara ini?”

Kaum Quraisy menyetujui usulan tersebut. Mereka mempercayakan penyelesaian persoalan kepada Muhammad. Rasulullah kemudian memberikan solusi yang membuat semua pihak dapat terlibat.

Beliau membentangkan kain dan meminta setiap pemimpin kabilah memegang salah satu sudutnya. Hajar Aswad diletakkan di atas kain tersebut. “Semua boleh mengangkat,” tutur Kak Awa memerankan Rasulullah.

Para pemimpin kabilah kemudian mengangkat Hajar Aswad bersama-sama. Setelah sampai di tempatnya, Rasulullah mengambil batu tersebut dan meletakkannya di posisi semula.

Perselisihan pun berakhir. Tidak ada pihak yang merasa dikalahkan. Semua ikut mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan.

Kak Awa kemudian menegaskan pesan dari kisah tersebut.

“Rasulullah, meskipun saat itu belum menjadi rasul, sudah menunjukkan jiwa seorang pemimpin. Pemimpin harus adil.”

Pesan itu kemudian menjadi semakin dekat ketika Genduk memberikan pertanyaan berhadiah kepada anak-anak. Perwakilan siswa masing-masing jenjang kelas maju ke panggung. Mereka dengan percaya diri menjawab pertanyaan dari Kak Awa dan Si Nduk.

Dongeng pun bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Di bawah pepohonan lapangan Mugeb pagi itu, kisah Hajar Aswad menjadi cara sederhana untuk mengenalkan kepada anak-anak bahwa kepemimpinan bukan tentang menjadi yang paling kuat, melainkan tentang menjadi orang yang dipercaya, adil, dan mampu menyatukan orang lain. (*)

Penulis Sayyidah Nuriyah