Liputan

Ketua PDM Gresik Tegaskan Bekerja di AUM Amanah Ideologis

9
×

Ketua PDM Gresik Tegaskan Bekerja di AUM Amanah Ideologis

Sebarkan artikel ini

Selawe.com – Kajian Islam bagi guru dan karyawan SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) Gresik digelar di Ruang Computer and AI Center (CAC), Jumat (21/08/2026). Sejak pukul 12.45 WIB, seluruh peserta hadir mengikuti kajian bertajuk “Membawa Semangat dan Nilai-Nilai Muhammadiyah dalam Bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).”

Kajian ini menghadirkan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik, KH Thoha Mahsun, S.Ag., M.Pd.I., M.HES., sebagai pemateri, dengan moderator guru Spemdalas, M. Nor Qomari, S.Si.

Mengawali paparannya, Thoha menegaskan bahwa citra Muhammadiyah di masa depan akan sangat ditentukan oleh performa AUM, baik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, maupun sektor lainnya. Tantangan itu, menurutnya, akan semakin berat seiring berjalannya waktu.

Ia mencontohkan geliat dunia pendidikan di Gresik yang berkembang pesat, dan menyebut Spemdalas sebagai salah satu sekolah unggulan dengan jumlah siswa yang terus bertambah.

“PDM memberikan arahan dan masukan yang diambil dari data lapangan, dikelola oleh teman-teman, lalu dijadikan keputusan. Jangan lengah dan terus memberikan inovasi-inovasi,” tegasnya.

Bekerja sebagai Amanah Ideologis

Thoha mengingatkan, bekerja di lingkungan Muhammadiyah bukan semata mencari nafkah, melainkan sebuah amanah ideologis untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

“Kerja adalah manifestasi iman dan persaksian kepada Allah. Bekerja di AUM, harus didasari kesadaran bahwa setiap gerak-gerik kita diawasi oleh Allah SWT,” ujarnya.

Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 105:

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105)

Menurutnya, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini sebagai peringatan sekaligus motivasi, bahwa setiap amal, baik yang tampak maupun tersembunyi, kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena itu, para pekerja di AUM dituntut untuk tidak hanya bekerja saat diawasi pimpinan, tetapi senantiasa merasa diawasi oleh Sang Khaliq.

Bekerja di AUM, Gugurkan Kewajiban Umat

Lebih lanjut, Thoha mengutip pandangan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin bahwa bekerja termasuk bagian dari fardhu kifayah. Jika tidak ada yang mengelola pendidikan atau kesehatan umat, maka seluruh umat akan menanggung dosa kolektif atas kelalaian tersebut.

“Karena itu, bapak ibu, ustadz-ustadzah sekalian ini sesungguhnya sedang menggugurkan kewajiban umat sekaligus menjalankan peran strategis bagi peradaban,” tuturnya.

Di bagian akhir kajian, Thoha menekankan pentingnya profesionalisme dan kualitas kerja (itqan) sebagai nilai yang sangat dijunjung Muhammadiyah. Menurutnya, AUM tidak boleh sekadar ada, tetapi harus tampil unggul dan berkemajuan.

Ia mengutip pandangan Imam Syafi’i bahwa itqan adalah kunci keberkahan. Seseorang yang menerima haknya (gaji/upah) namun tidak menunaikan kewajibannya secara sempurna, dinilai telah mencederai akadnya dengan Allah.

“Dalam konteks AUM, itqan berarti memberikan pelayanan terbaik kepada pasien di RS Muhammadiyah, atau memberikan pengajaran terbaik bagi siswa di sekolah dan madrasah Muhammadiyah,” pungkasnya. (*)

Penulis Lely Badriyah Editor Sayyidah Nuriyah