Liputan

Drama Ruang Guru Mugeb Bikin Gerr

38
×

Drama Ruang Guru Mugeb Bikin Gerr

Sebarkan artikel ini
Drama SD Mugeb

Guru SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik menampilkan drama komedi Malaikat Cek dalam agenda Upgrading 2026

Selawe.com – Para guru SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik menampilkan drama komedi Malaikat Cek dalam agenda Upgrading 2026, menyajikan dinamika harian guru hingga fenomena inden sekolah dalam kandungan.

Gelak tawa bergemuruh memecah keheningan suasana saat para pendidik dari SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School) memanggungkan dinamika harian mereka. Lewat pertunjukan jenaka, mereka mengemas riak-riak perjuangan, kelakar, hingga liku-liku kehidupan ruang guru menjadi tontonan yang menyegarkan.

Majelis Pendidikan Dasar Menengah (Dikdasmen) dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik menyelenggarakan agenda Upgrading 2026 bertema Gearing Up for The New Academic Session pada Jumat–Sabtu (31/7–1/8/2026). Sekolah-sekolah di bawah naungan Muhammadiyah GKB mengikuti rangkaian acara ini dengan penuh antusiasme.

Para peserta menantikan momen istimewa pada Jumat malam. Sambil menikmati santap malam, mereka menyaksikan beragam unjuk kebolehan dari perwakilan empat sekolah. Penampilan spesial urutan keempat menghadirkan tim Mugeb Primary School yang membawakan drama bertajuk “Malaikat Check!”.

Kisah bermula saat Rahmat Arianto, S.Pd, yang memerankan tokoh Pak Rahmad, melangkah tergesa-gesa menembus dinginnya udara pagi. Waktu telah menunjukkan pukul 06.28 WIB, tetapi layar ponselnya masih saja memutarkan ikon pemuat data tanpa kepastian. Ia pun menyalahkan sinyal seluler yang menghambat akses aplikasi presensi digitalnya. Sistem seolah gagal memproses data masuk.

Melihat kepanikan itu, rekannya, Bu Qonita (Qoonita Rizka Syafana, S.Pd), menyapa seraya menggelengkan kepala.

“Makanya, Pak, kalau berangkat itu lebih awal, jangan mepet-mepet,” tuturnya.

“Sudah berangkat sebelum matahari terbit, pulang juga setelah matahari tenggelam. Susah sekali hidup ini,” keluh Rahmad meluapkan kejenuhannya.

“Kan demi sayang dan cinta keluarga, Pak. Meskipun harus pergi pagi pulang pagi,” sahut Qonita menenangkan.

Di tengah percakapan tersebut, Fahilan Nur Bachtiar, S.Pd hadir memerankan sosok setan yang santun. Fahilan menimpali dengan kelakar satir.

“Ssst! Setan santun, cek! Pulang saja! Libur sesekali tidak apa, asal tidak ketahuan!”

Namun, Sayyidah Nuriyah, S.Psi, yang memerankan tokoh malaikat, segera menepis godaan tersebut dengan nada sejuk.

“Malaikat, cek! Pak, berangkatlah lebih awal supaya sinyal tidak jadi kambing hitam. Insya Allah berkah melimpah selama ikhlas pergi pagi, pulang petang,” tuturnya.

Suasana koridor mendadak mencair ketika Nur Hakiky, M.Pd mulai melantunkan lagu Pergi Pagi Pulang Pagi, sementara para rekan kerjanya menari lepas di latar belakang.

Beban Kerja Ibu Pekerja

Dinamika di lingkungan sekolah tak berhenti pada urusan presensi digital semata. Babak berikutnya menampilkan Bu Qonita yang menegur Bu Ifa (Khofifatur Rohmah, S.Pd) karena berjalan terburu-buru menuju ruang guru dengan penampilan kurang rapi.

“Bu Ifa, kok tetap salah dresscode? Sampean kok pakai kerudung seperti ini?” tanya Qonita heran.

Bu Ifa menepuk jidatnya. “Duh, iya. Ini tadi aku lupa, ternyata kerudungku belum disetrika. Ini baju seragamnya baru aku bawa.”

“Yang fokus, Bu. Kerja yang bener supaya cepat dapat hadiah umrah dari majelis,” ujar Qonita memberi semangat.

Bu Ifa menghela napas panjang meratapi tumpukan tanggung jawabnya. “Banyak sekali pikiranku. Jadi Bu RT harus mengurus kegiatan Agustusan, mengurus pekerjaan di sekolah, mengurus anak. Lho, ya Allah! Anakku belum tak mandikan tadi! Ya Allah, anakku…”

Fahilan si Setan Santun kembali menyela. “Ssst! Setan santun cek! Kan benar, anakmu jadi tidak terurus. Cepat pulang mumpung Bu Fony (kepala sekolah) masih di dalam ruangan!”

“Nah, itu Bu Fony!” seru Qonita dan Bu Ifa bersamaan sambil menunjuk ke arah sang kepala sekolah yang turut duduk menyimak di hadapan mereka.

Sayyidah kembali hadir membawa ketenangan. “Malaikat cek! Tenang, Bunda. Meskipun salah seragam dan pikiran terpecah ke mana-mana, masih ada Allah yang menjaga ananda. Semangatlah Ayah dan Bunda dalam berjuang mencari nafkah yang penuh berkah.”

Fenomena Inden Sejak dalam Kandungan

Popularitas lembaga pendidikan MGKB yang melambung tinggi menciptakan fenomena unik di meja administrasi pendaftaran. Tokoh Anggun menemui Mesi dengan guratan wajah cemas.

“Ustazah, saya mau inden untuk tahun 2033, apakah bisa?” tanya Anggun tanpa ragu.

Mesi terbelalak menatap calon wali murid di hadapannya. “Waduh, itu masih lama sekali, Bunda. Keburu saya pikun.”

“Saya takut tidak dapat kuota, Ustazah. Kata orang-orang, masih bayi saja sudah harus inden,” kata Anggun membela diri.

“Memangnya anak yang mau diindenkan ikut hadir, Bunda?” tanya Mesi penasaran.

“Iya, ikut ini, Us. Berdua saja kami,” jawab Anggun santai.

Mesi mengedarkan pandangan ke sekitar Anggun yang berdiri sendirian. “Mana, Bunda? Kok tidak kelihatan?”

“Ini lho, Ustazah, ikut di dalam perut. Kalau tidak kelihatan, Ustzah lihat foto hasil USG saja supaya bisa inden lebih dini,” sahut Anggun sambil menunjukkan dokumen medisnya. Tawa peserta pecah melihat foto USG berukuran ekstra besar itu.

“Kok tergesa-gesa sekali, Bunda? Saya saja sampai tidak sempat bernapas ini,” ujar Mesi terkaget-kaget.

“Iya, karena kata orang-orang, pendidikan di MGKB itu mantap sekali,” tegas Anggun.

 

Fahilan pun menyindir, “Setan santun cek! Inden kok dari bayi, sekalian saja inden sebelum menikah!”

 

Namun Sayyidah membenarkan langkah preventif tersebut agar wali murid tidak perlu panik berebut kuota pada kemudian hari.

 

Para guru juga mengangkat beberapa masalah lain pada malam itu. Qoonita lantas menutup drama tersebut dengan pesan mendalam.

 

“Meskipun banyak ujian saat bekerja dan beban terasa berat, ingatlah untuk tetap bersyukur. Sebab dari 1001 macam pekerjaan di dunia ini, kita masih menerima rezeki memiliki pekerjaan.”

Para pemain pun naik panggung. Mereka bergerak sesuai irama lagu yang Nur Hakiky nyanyikan dengan merdu dan penuh semangat.

Para pemeran merancang pertunjukan ini melalui kerja kelompok menyusun naskah hingga latihan intensif sejak tiga hari sebelumnya. Setiap sepulang sekolah, mereka berkumpul untuk mematangkan konsep tampilan. Kerja keras tersebut berbuah manis karena setiap adegan berhasil memancing gelak tawa penonton. (*)

Penulis Sayyidah Nuriyah. Editor Ichwan Arif.