
Siswa Mugeb Primary School mengikuti LDKS hari kedua di Bernah De Vallei, menempa mental pejuang tanpa keluh kesah bersama pelatih serta alumni inspiratif Muhammadiyah.
Selawe.com – Udara segar menyapa deretan pepohonan pinus di Camping Ground Bernah De Vallei pada Senin, 21 September 2026. Tepat pukul 09.00 WIB, suasana riuh mewarnai semangat anak-anak berseragam olahraga yang kompak. Hari itu memasuki hari kedua Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) bagi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kids SD Muhammadiyah GKB Gresik (Mugeb Primary School). Mereka secara sadar menanggalkan atribut bidang masing-masing.
Langkah tersebut menegaskan satu identitas utuh. Yakni mereka adalah satu bagian besar dari keluarga IPM Kids Mugeb Primary School yang siap bertumbuh bersama.
Suasana makin hangat saat Ketua IPM Kids Mugeb Primary School, Ghaitsa Zahra Adara, memberikan sambutannya. Di hadapan teman-temannya, Ghaitsa mengingatkan, belajar tak hanya terbatas di dalam ruang kelas. Kegiatan outbound ini menjadi momentum berharga untuk menempa kebersamaan, kekompakan, kepercayaan, hingga keberanian langsung di lapangan.
Dalam pesan yang disampaikannya penuh kehangatan, Ghaitsa menekankan tiga poin utama bagi seluruh peserta. Pertama, ia mengajak teman-temannya untuk selalu mengingat Allah SWT dengan menjaga sholat dan lisan.
Kedua, pentingnya menjaga kekompakan. “Karena kita berada dalam satu tim yang sama,” imbuhnya.
Terakhir, ia berpesan, “Mari kita semua menikmati setiap permainan dengan gembira tanpa perlu merasa canggung,” ajaknya.
Mengakhiri sambutannya, Ghaitsa memberikan ucapan selamat ber-outbound ria kepada seluruh peserta. Ia berharap seluruh rangkaian acara dapat berjalan lancar serta membawa pulang ilmu yang penuh berkah untuk semua.

Semangat Pejuang
Semangat para peserta membuncah tatkala Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana Mugeb Primary School, Siswanto, S.Pd.I., memberikan sambutan penuh gelora di hadapan barisan siswa. Dengan nada mantap, ia membakar jiwa kepemimpinan para kader muda tersebut.
“Sehat? Semangat? Capek? Perjalanan itu kenangan, karena IPM itu ikatan pelajar yang siap menjadi pelopor, penggerak, penerus, pejuang amal usaha Muhammadiyah,” tegasnya.
“Apa pun yang terjadi hari ini, seorang pejuang tidak sambat. Pejuang pantang sambat, pantang menyerah. Kalau ragu jadi kader Muhammadiyah, pulang saja! Begitu kata Jenderal Soedirman yang tertempel di dinding sekolah kita,” ujar Sis, sapaan akrabnya, menyebarkan gelombang optimisme.
Ia juga mengenalkan sosok trainer yang berdiri di sampingnya sebagai bukti nyata lulusan Mugeb Primary School yang sukses mengukir prestasi. “Mas Afif ini juga alumnus Mugeb. Alumnus Mugeb pasti hebat, bukan sambat,” imbuhnya penuh syukur.
Secara simbolis, Siswanto lantas menyerahkan bendera kebanggaan IPM kepada Direktur Power Inspiration Trainer Center (PITC), Afif HidayatullahS.E., S.Pd., M.Ak. Momen penyerahan bendera ini menjadi penanda mulainya penggemblengan mental dan karakter bagi para peserta.

Empat Mental Utama dan Inspirasi Masa Lalu
Usai menerima bendera, Afif langsung memompa motivasi peserta. Ia menekankan empat mental utama yang wajib tertanam kuat dalam diri setiap anak Mugeb Primary School selama mengarungi masa depan.
“Pulang dari sini, kalian harus punya mental jatuh biasa, bangkit luar biasa. Seorang pemenang tidak pernah menyerah karena yang menyerah tidak pernah menang,” urainya.
“Jangan pernah hitung berapa kali kamu jatuh, tetapi hitung berapa kali kamu bangkit. Jangan pernah mengatakan, ‘Wahai Allah, masuk IPM itu sulit,’ tetapi katakan, ‘Wahai IPM, saya punya Allah,'” tutur Afif penuh penekanan.
Afif tidak hanya membagikan teori kepemimpinan, tetapi juga membeberkan kisah perjalanan hidupnya sendiri untuk membakar semangat para kader muda. Ia mengenang masa kecilnya yang penuh dengan keterbatasan serta sifat pemalu yang dulu menyelimutinya.
“Dulu saya pendiam, tidak berani bicara, sepatu sering hilang. Lalu saya mengikuti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Batu. Saya bergerak sendirian menjemput teman-teman,” kenangnya.
“Saya kuliah di Universitas Negeri Malang (UM), sekolah sambil bekerja berjualan. Ibu saya pernah berpesan, ‘Fif, Ibu tidak bertanya nilaimu, Ibu bertanya prosesmu.’ Anak IPM itu adalah orang-orang pilihan,” ungkapnya haru.
Di tengah sesi pencerahan tersebut, Afif juga mengamati gestur tubuh dan kedisiplinan para peserta yang berbaris di bawah rindangnya pepohonan.
“Di sini cara berdirinya bermacam-macam. Dari cara berdiri tegap, saya tahu mana anak yang mempunyai mental sukses bersama-sama. Itu luar biasa,” pujinya.
Suasana haru dan serius itu kemudian mencair ketika seluruh peserta melakukan pemanasan bersama. Gelak tawa dan keceriaan kembali pecah saat mereka menggerakkan badan mengikuti irama senam chicken dance yang energik di tengah kesejukan alam. (*)
Penulis Sayyidah Nuriyah










