Liputan

Band Bocah Mugeb Guncang Musyda XXIII IPM Gresik

9
×

Band Bocah Mugeb Guncang Musyda XXIII IPM Gresik

Sebarkan artikel ini

Band Bocah Mugeb Primary School tampil percaya diri di Musyda XXIII IPM Gresik. Membawakan lagu nostalgia, tujuh siswa ini tak hanya menghibur peserta, tetapi juga belajar tentang keberanian, harmonisasi, dan kerja sama.

Selawe.com – Suasana pembukaan Musyawarah Daerah (Musyda) XXIII IPM di Halaman SMP Muhammadiyah 1 Gresik, Sabtu (12/9/2026), semakin semarak. Sekelompok murid SD Muhammadiyah GKB (Mugeb Primary School) Gresik, Jawa Timur, tampil menghibur para peserta Musyda pagi itu.

Sekitar pukul 08.30 WIB, tujuh siswa kelas IV dan V naik ke panggung membawa alat musik masing-masing. Mereka tampil sebagai sebuah band di hadapan para tamu undangan, seperti Wakil Bupati Gresik dr. H. Asluchul Alif, M.Kes., M.M., M.H.P. dan Anggota DPRD Gresik Elvita Vetty, S.P.

Peserta maupun penggembira Musyda, dari anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) se-Kabupaten Gresik, turut menyaksikan penampilan tersebut. Termasuk tujuh pimpinan IPM Kids dari SD Muhammadiyah GKB Gresik yang hadir sebagai penggembira Musyda. Mereka kompak mengenakan jas kuning IPM.

Dengan percaya diri, Band Bocah Mugeb membawakan dua lagu populer. Pertama, lagu Sheila on 7, yakni “Hari Bersamanya”. Kedua, “Kepompong” yang dipopulerkan oleh Sind3ntosca. Aransemen musik yang mereka bawakan membuat suasana di area acara semakin hidup.

Tepuk tangan meriah langsung terdengar dari para tamu undangan maupun peserta Musyda. Sebagian peserta bahkan ikut bernyanyi bersama mengikuti lagu yang mereka bawakan.

Bagi para siswa, tampil di hadapan banyak orang tentu bukan pengalaman yang sepenuhnya mudah. Ada rasa gugup yang harus mereka lawan sebelum musik mulai dimainkan. Namun, begitu intro lagu terdengar, mereka menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Lagu Nostalgia Satukan Generasi

Kanaya Auxilla Shaqeela Mecca dari kelas V Dewi Sartika yang akrab disapa Chila dan bertugas sebagai vokalis, mengaku sempat merasa gugup sebelum naik ke panggung. Ia merasa sedikit nervous ketika melihat banyaknya penonton yang hadir. Namun, rasa gugup tersebut perlahan menghilang setelah ia mulai bernyanyi.

Usai tampil, perasaan Chila berubah menjadi bahagia dan penuh syukur. Antusiasme penonton yang memberikan tepuk tangan dan ikut bernyanyi membuat pengalaman tersebut terasa semakin berkesan.

“Terima kasih, SD Mugeb, yang terus membersamai murid-murid untuk berkarya, mengembangkan potensi, dan berani menunjukkan kemampuan mereka,” ujar Chila.

Menariknya, pilihan lagu yang mereka bawakan turut menjadi alasan penonton begitu antusias.

“Lagu-lagu yang kami bawakan adalah lagu-lagu yang dulu hits di zaman milenial. Jadi, Alhamdulillah semua peserta sangat antusias ikutan bernyanyi,” ujar Chila.

Lagu-lagu yang pernah populer di kalangan generasi milenial tersebut ternyata mampu menjembatani suasana antara para siswa dan peserta Musyda. Anak-anak memainkan lagu, sementara para peserta ikut bernyanyi dan menikmati penampilan mereka.

Di tengah agenda Musyda yang serius, penampilan para siswa memberikan jeda yang menyenangkan. Mereka tidak hanya memainkan alat musik, tetapi juga menghadirkan energi dan keceriaan khas anak-anak.

Tujuh Siswa, Satu Panggung

Band Bocah Mugeb tersebut beranggotakan siswa kelas IV dan V dengan peran yang berbeda-beda. Kanaya Auxilla Shaqeela Mecca dari kelas V Dewi Sartika menjadi vokalis dengan nama panggilan Chila. Bersamanya, Namira Fatma Al Ghani dari kelas V Cut Nyak Dien menjadi vokalis.

Di bagian instrumen, Aisyah Alya Shakila dari kelas V Cut Nyak Dien memainkan gitar. Almera Azzahra Alfatunisa dari kelas V Ernest Douwes Dekker mengisi posisi bass. Gendis Alesha Prameswari dari kelas V Cut Nyak Dien bertugas sebagai keyboardis. Sementara itu, Aswin Kavindra Maheswara dari kelas IV C menjadi drummer dan Rinjani Hardiansyah Putri dari kelas V Adam Malik turut mengisi vokal.

Bagi Aswin, bermain drum bukanlah hal baru. Ia sudah mulai memainkan drum sejak duduk di TK B, ketika usianya sekitar enam tahun. Sejak itu, ia semakin menikmati dunia musik, terlebih ketika bisa bermain bersama kakak-kakak dalam sebuah grup band.

Aswin mengaku senang bermain drum bersama kakak-kakak. Ia juga menyukai bermain bersama band karena biasanya ia lebih sering tampil sebagai pemain drum solo.

Tantangan Menyesuaikan Band

Namun, bergabung dalam sebuah band memberikan tantangan yang berbeda. Jika saat solo drum ia dapat lebih leluasa menunjukkan kemampuan, seperti kecepatan dan teknik bermain, bermain dalam sebuah band membuatnya harus belajar menyesuaikan diri dengan pemain musik lainnya.

“Yang sulit itu harus bermain drum yang bisa harmonisasi sama yang lain, seperti piano, gitar, bass, dan vokal. Biasanya Aswin solo drum. Kalau solo drum kan harus show off skill, kecepatan, dan lain-lain. Kalau di band itu harus bisa mengimbangi pemain lain agar lagunya enak didengar,” ujar Aswin.

Tantangan tersebut justru menjadi pengalaman berharga bagi Aswin. Ia belajar bahwa bermain musik bersama tidak selalu tentang siapa yang paling menonjol. Setiap pemain harus mendengarkan, menyesuaikan diri, dan memberi ruang agar seluruh bagian musik dapat terdengar harmonis.

Sang mama, Eryna Merdiana, pun bersyukur Aswin mendapat kesempatan terlibat dalam grup band. Baginya, pengalaman tersebut bukan hanya untuk mengembangkan kemampuan bermusik, tetapi juga menjadi kesempatan bagi Aswin untuk belajar bekerja sama dan menurunkan ego.

“Enggak apa-apa, Ust, biar belajar bermain bersama, menurunkan ego juga. Kalau kayak gini kan dia harus ngikutin kakak-kakak yang lain,” tutur Eryna.

Menurut Eryna, pengalaman bermain dalam kelompok diharapkan dapat menjadi bekal bagi Aswin untuk belajar bekerja sama dengan orang lain.

“Biar ke depannya bisa kerja kelompok yang baik,” tambahnya.

Ketujuh siswa tersebut berlatih intensif untuk mempersiapkan penampilan mereka. Bagi mereka, tampil di hadapan peserta Musyda bukan sekadar kesempatan memainkan lagu, tetapi juga menjadi ajang untuk menguji keberanian, mengasah kemampuan, dan belajar bekerja sama dalam sebuah tim.

Pembina Ekstrakurikuler Musik SD Mugeb, Muhammad Rizky, terus memberikan motivasi selama proses latihan. Ia berpesan agar para siswa percaya diri ketika harus melakukan pertunjukan di hadapan banyak penonton.

Pesan tersebut akhirnya mereka buktikan di atas panggung. Tujuh anak, tujuh peran, dan satu irama berhasil menyatukan mereka dalam sebuah penampilan yang menghibur.

Bagi Band Bocah Mugeb, panggung Musyda bukan hanya tempat untuk menunjukkan kemampuan bermusik. Lebih dari itu, panggung tersebut menjadi ruang belajar untuk berani tampil, mendengarkan satu sama lain, mengendalikan ego, dan memahami bahwa sebuah pertunjukan yang indah lahir dari kerja sama. (*)

Penulis Kanaya Auxilla Shaqeela Mecca, Journalist Kids Mugeb Primary School, Editor Sayyidah Nuriyah