
LDKS IPM Kids Mugeb Primary School hari kedua melatih kepemimpinan, kerja sama, dan pantang menyerah hingga berhasil memecahkan rekor mengibarkan bendera melalui pipa.
Selawe.com – Area berundak di depan lokasi Camping Ground Bernah De Vallei mendadak penuh semangat pada Senin, 21 September 2026, sekitar pukul 09.30 WIB. Sebanyak puluhan siswa hadir menyatukan tekad sebagai kader IPM Kids Mugeb Primary School dalam Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) hari kedua.
Setelah semangat para peserta membara, mereka langsung mengikuti serangkaian permainan pemanasan. Panitia membagi mereka ke dalam tujuh kelompok. Para siswa berdiri melingkar sambil saling merangkul erat bersama rekan satu timnya. Masing-masing anggota kelompok lantas menunjuk seorang teman yang mereka anggap paling layak menjadi pemimpin.
Direktur PITC, Afif Hidayatullah, SE., S.Pd., M.Ak., bersama trainer Azim segera memberikan arahan kepada para ketua kelompok. Mereka meminta setiap tim membuat nama kelompok dan yel-yel dalam waktu tujuh menit—dua menit untuk berdiskusi dan lima menit untuk praktik pementasan.
Seorang peserta bernama Shanum mencoba bernegosiasi. “Boleh 10 menit?” tanyanya.
Master Azim terus menyemangati seluruh peserta dengan lantang. “Kita luar biasa, kita layak sukses bersama!” serunya.
Usai berdiskusi singkat, setiap kelompok maju satu per satu untuk menampilkan yel-yel kebanggaan. Beragam nama unik menyeruak, mulai dari Kadal Balap, Garuda, Alas Roban, Kopdes, Strong Women, Kelinci, Mawar, hingga Josjis.
Seluruh peserta kemudian melanjutkan agenda dengan memainkan gim pertama. Antarkelompok duduk saling berhadapan untuk berlomba memperebutkan bola di tengah arena. Posisi awal tangan wajib berada di belakang punggung dengan sikap siap. Begitu mendengar kata “apel”, mereka adu cepat mengambil bola di depan mata.
Afif memimpin langsung jalannya permainan sambil merangkai cerita. “Saya diajak jalan-jalan Bu Sayyidah. Kami beli buah… anggur. Tapi saya dibelikan oleh-oleh buah berwarna hijau… yaitu buah melon. Bukan buah melon tapi buah nangka. Saya tidak suka nangka tapi buah… yang bisa petik sendiri namanya buah salak. Oh bukan salak tapi saya suka buah apel!”
Tangan para peserta langsung sigap menyambar bola warna-warni tersebut. Gelak tawa pecah tatkala mereka berkali-kali terkecoh oleh gaya Afif menyebutkan nama buah secara menggantung. Panitia menetapkan kelompok yang anggotanya paling banyak menangkap bola sebagai pemenang.

Menguji Kekompakan dan Strategi
Sebelum melangkah ke permainan berikutnya, panitia membagi peserta menjadi dua kelompok besar. Kader IPM Kids laki-laki memainkan gim membawa bola menggunakan nampan bertali, sedangkan kader perempuan bertanding dalam permainan bola keranjang.
Para ketua kelompok mendatangi trainer untuk menerima instruksi permainan pertama kali. Merekalah yang bertugas meneruskan arahan tersebut kepada seluruh anggota tim.
Pada gim nampan bertali, peserta memasukkan tali yang terikat di pinggir nampan ke leher masing-masing. Tugas utama mereka adalah membawa bola dari titik awal ke titik akhir tanpa boleh menjatuhkannya. Jika bola terjatuh, mereka wajib mengulang perjalanan dari garis awal. Setelah mencapai finis, mereka harus menurunkan nampan secara perlahan.
“Letakkan di atas pot ini, bukan di atas tanah. Tugas belum selesai, lepaskan tali pelan-pelan dan jangan sampai bolanya jatuh,” ujar trainer memberi petunjuk.
Shaka langsung mengambil kendali kepemimpinan di timnya. “Ayo, jangan ditarik!” serunya. Ia kembali memberi komando, “Sek, tunggu!”
Ketika bola mendadak jatuh di garis finis, anggota kelompok Shaka kompak berteriak kecewa, “Yaaah!” Dari pengalaman kegagalan tersebut, Shaka berinisiatif memberikan arahan baru agar timnya lebih fokus. “Nanti jangan ngobrol kalau jalan,” tegasnya.
Di kelompok lain, Keano sibuk mengatur posisi kawan-kawannya. “Diwa, agak sini Diwa,” katanya.
Alvin menimpali untuk mengingatkan ritme langkah. “Arrasy, jangan tarik kencang!” pesan Alvin.
Sementara itu, Muhammad Arsya Ibnu yang akrab disapa Aca turut memperingatkan, “Ojok ngebut!”
Sementara itu, situasi tak kalah seru terjadi di area permainan bola keranjang peserta perempuan. Para peserta boleh memegang keranjang, namun tantangannya adalah mengeluarkan bola tanpa menyentuhnya menggunakan tangan. Mereka wajib menggunakan stik sebagai alat bantu.
“Trainer Syam mengarahkan dari luar arena, ‘Bagaimana caranya bola bisa keluar tanpa disentuh pakai tangan? Coba keluarkan bola kuning, pelan-pelan. Tidak boleh mencongkel bolanya. Pelan-pelan ya, lanjut gantian. Perlu kerja sama, ada yang menahan. Silakan bikin strategi gimana bisa keluar.'”

Menembus Batas Kesabaran
Saat giliran tim putri bertanding, kelompok Josjis berhasil keluar sebagai pemenang lewat kerja sama yang rapi. Adeeva tampak sigap mengarahkan rekan-rekannya untuk tetap fokus merebut poin. “Pink, targetnya pink!” teriak Adeeva memberi komando.
Di kelompok lain, Adzkia berusaha menjaga ketenangan tim sambil membagikan tugas secara runtut. “Keluarkan semua stiknya. Masukkan dua-dua, gantian!” instruksinya.
Nabilah Ayu sempat mengembuskan napas panjang sembari mengeluh halus. “Ya Allah…” cetusnya kesal lantaran bola yang ia incar lagi-lagi menggelinding jatuh ke bawah.
Ghaitsa segera mengambil alih kendali dengan mengarahkan timnya mengincar sasaran lain yang lebih mudah. “Hijau!” serunya. Bersamaan dengan itu, kelompok Josjis mendadak bersorak girang karena sukses mengeluarkan bola berwarna hijau terlebih dahulu.
Tim putra pun tidak luput dari kepedasan rasa gemas saat berhadapan dengan permainan yang benar-benar menguji kesabaran tersebut. Alvaro Kenzi mencoba menenangkan barisannya. “Jangan marah-marah. Duduk aja, kan kita gak jalan. Naikkan. Ayo kerja sama!” ujarnya.
Fathan Pasma menambahi arahan teknis agar stik tidak saling berbenturan. “Jangan masuk semua, satu-satu. Bikin tangga. Tahan. Sabar, nah pintar. Lagi!” bisiknya penuh konsentrasi. Seluruh peserta fokus mencurahkan energi demi memecahkan tantangan gim tersebut.
Setelah seluruh rantai permainan selesai, kedua kelompok bertukar posisi sehingga setiap peserta dapat merasakan ketiga gim yang tersedia. Usai seluruh rangkaian gim berakhir, Afif mengumumkan bonus nilai. “Yang rapi duluan dapat poin 150 ribu!” ungkapnya.
Para siswa langsung berlari berkumpul kembali di tengah arena, menyatu menjadi satu tim besar untuk menghadapi gim puncak.
Gim terakhir berlangsung dramatis dengan iringan lagu latar Final Countdown. Tugas seluruh peserta adalah mendirikan bendera menggunakan tekanan air. Mereka harus memasukkan air dari plastik panjang, lalu mengalirkannya ke dalam pipa hingga bendera Sang Merah Putih terdorong naik di ujung pipa sebelah.
Adzkia terpilih menjadi ketua komando gim pamungkas ini. Ia membagikan peran secara presisi berdasarkan postur tubuh kawan-kawannya. “Yang tinggi di depan biar bisa memasukkan air ke pipa yang tinggi,” perintahnya.
Adzkia juga mengatur siapa saja yang bertugas di dekat pipa, sumber air, hingga peserta yang berbaris rapat di jalur tengah. “Ayo, kamu di mana?” tegurnya menertibkan posisi kawan-kawannya yang langsung bergerak masuk ke dalam barisan.
Afif terus menyuntikkan motivasi dari pinggir lapangan. “Kalau kalian kompak pasti bisa. Strategi silakan diatur. Saya meyakini kalian bisa menyelesaikan gim ini!” tegasnya.

Tangis Haru di Garis Finis
Di area hulu sumber air, Athar memimpin komando pengaliran. “Turun dulu!” serunya.
Alvin menyahut cepat, “Naik!”
Olan menambahkan instruksi, “Jangan ditarik!”
Sementara Keano fokus penuh memegang ujung plastik tepat di mulut kran air. Hakan turut mengarahkan gerakan kawan-kawannya, “Plastiknya ke bawah!”
Setelah melewati beberapa kali percobaan yang gagal, seluruh peserta akhirnya sepakat bergerak searah mengikuti instruksi tunggal: “Angkat! Turun!” Mereka mengangkat dan menurunkan plastik secara simultan demi mengalirkan air. Dari belakang barisan, Rahmat Arianto, S.Pd., mengibarkan bendera IPM untuk memberikan dukungan moral.
Di area hilir pipa, trainer Azim terus memacu semangat peserta. “Bendera sudah sampai sini! Ayo jangan sampai bendera turun lagi!” teriaknya.
Saat bendera mulai merangkak naik, ujian berat mendadak datang: plastik pembawa air mengalami kebocoran. Para peserta pantang menyerah dan berjuang keras menyambung aliran air. Anak-anak yang berada di dekat titik bocor bahkan rela basah kuyup demi menadahi tumpahan air menggunakan telapak tangan dan pakaian mereka.
Tepat pukul 11.50 WIB, keajaiban terjadi. Mereka berhasil memecahkan rekor mengibarkan bendera hingga puncak pipa. Sebagian peserta spontan melakukan sujud syukur di atas tanah. Keano bahkan tak sanggup menahan air mata bahagianya hingga tangisnya pecah melihat Sang Merah Putih berkibar gagah di ujung pipa.
Shaka langsung mengambil posisi dan memimpin penghormatan. “Siap grak! Kepada Sang Merah Putih, hormat grak!” serunya. Seluruh peserta memberikan hormat tertinggi sembari menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars IPM secara khidmat.

Keluarga Rela Berkorban
Afif lantas memanggil Ketua, Wakil Ketua, serta peserta dengan baju paling kotor untuk maju berjejer di depan arena. “Semua bersih, tapi dia berkorban. Dia punya hati untuk IPM, untuk sekolah. Dia melindungi air pakai bajunya sampai jadi yang paling kotor,” puji Afif mengapresiasi perjuangan peserta tersebut. Seluruh kader IPM Kids memberikan tepuk tangan meriah.
Afif kemudian mengajak seluruh peserta melakukan sesi refleksi bersama. “Tadi ada tragedi plastik pecah lalu disambungkan. Begitulah di dalam keluarga. Jangan ada circle ya di keluarga kita,” pesannya penuh makna.
Mengapresiasi Adzkia selaku pemimpin gim terakhir, Afif menuturkan rasa bangganya. “Ketika berhasil, banyak yang meneteskan air mata,” ucapnya.
Adzkia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh kawan-kawan. “Terima kasih teman-teman sudah memecahkan rekor. Semoga kita ke depan gini terus, tetap kompak. Sukses selalu, terima kasih!” tutur Adzkia.
Afif juga memberikan apresiasi khusus kepada Ketua IPM, Ghaitsa. “Ketua yang hebat mampu menjadikan anggotanya sebagai keluarga. Jangan biarkan anggotanya berkelompok-kelompok, semua adalah keluarga,” tegas Afif.
Ghaitsa menanggapi pujian tersebut dengan penuh haru. “Terima kasih sebanyak-banyaknya. Walau kita sempat bertengkar, plastiknya pecah, naik turun, itu sudah berlalu. Yang penting kita sudah berhasil. Kalau ada lagi tahun depan, semoga makin kompak dan sukses selalu. Makasih ya teman-teman, karena kalian semua kita jadi bisa meraih ini,” ungkap Ghaitsa.
Kepada Keano yang terus menadahi kran air hingga menangis haru, Afif menyampaikan rasa bangganya. “Kamu langsung mengeluarkan air mata ya, tanda sangat cinta dengan IPM,” ujarny.
Keano menyahut penuh semangat, “Makasih teman-teman sudah berjuang. Semangat! Terima kasih telah berkorban demi IPM dan Mugeb. Kita kompak selalu ya!”
Afif tak lupa memberikan pujian tinggi kepada pembina pendamping, Rahmat Arianto. “Bapak pembina yang hebat, sangat cinta anak-anak. Menjadikan anak IPM sebagai sumber pahala. Bisa jadi waktu untuk keluarga lebih sedikit daripada untuk membina dan menyatukan mereka,” ujar Afif.
Rahmat merespons apresiasi tersebut dengan mata berkaca-kaca. “Saya terharu dengan kalian. We are the best! Tugas kalian bermacam-macam, beda-beda perasaan, tapi kalian menyatukan kekompakan untuk menggapai satu tujuan. Organisasi ini akan mengantarkan anak-anak sukses menggapai cita-cita,” kata Rahmat.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana Mugeb Primary School, Siswanto, S.Pd.I., turut memberikan wejangan penutup. “Hari ini adalah titik awal kita dalam bermimpi menuju kesuksesan. Tadi sudah kita pahami kondisinya, riuh dan tak karuan untuk mencapai titik tujuan. Banyak proses yang kalian alami,” ujarnya.
“Karena proses mental pantang menyerah dan optimis ini, hasilnya jadi luar biasa. Ini awal, nanti bisa kalian praktikkan ke kehidupan sehari-hari. Kita tidak boleh menyerah. Siap pantang menyerah? Siap sukses? Siap menuju kejayaan di masa depan bersama IPM?” serunya yang disambut teriakan “Siap!” dari seluruh peserta.
Sebelum menutup acara, Afif mengumumkan pemenang tim terbaik. Ia mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah dari dompetnya. “Poin 180 ribu jatuh ke kelompok Garuda!” serunya mengumumkan tim terbaik laki-laki.
Ketua kelompok Garuda sekaligus Bendahara IPM, Irsyad, maju menerima penghargaan tersebut. Untuk tim terbaik perempuan, Ketua kelompok Strong Woman, Farzana, maju menerima hadiah serupa.
Seluruh rangkaian acara ditutup dengan doa bersama. Para peserta memejamkan mata sambil saling bergandengan tangan erat, memohon maaf atas kesalahan, mendoakan kesehatan keluarga, serta memohon kemudahan dari Allah SWT. Suasana haru menyeruak tatkala keluarga besar Mugeb Primary School saling berpelukan dan berjabat tangan menguatkan ikatan persaudaraan. (*)
Penulis Sayyidah Nuriyah










