
Selawe.com – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik.
Murid kelas 9 ICP 2 Alaric Az Zahidi Ariwibowo berhasil meraih Juara Lomba Menulis Opini Gebyar FORTASI 2026 yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Timur.
Prestasi tersebut tercantum dalam Berita Acara Penetapan Hasil Lomba Gebyar Fortasi 2026. Alaric memperoleh total nilai 260,2 dan ditetapkan sebagai juara kategori Lomba Opini, mewakili SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik.
Lomba tersebut dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa (Fortasi) pada bulan Juli 2026. Setelah melalui proses penilaian oleh dewan juri, hasil lomba diumumkan melalui akun Instagram PW IPM Jawa Timur pada September 2026.
Alaric kemudian menghadiri acara pemberian penghargaan pada Kamis, 17 September 2026, di Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya. Pemberian penghargaan tersebut dilaksanakan bersamaan dengan rangkaian pelantikan PW IPM Jawa Timur periode 2026–2028.
Mengangkat Isu Kesehatan Mental Siswa
Dalam wawancara yang dilakukan pada Senin, 28 September 2026, di sela kegiatan belajar, Alaric menjelaskan bahwa tulisan yang mengantarkannya meraih prestasi tersebut berjudul “Tantangan Kesehatan Mental Siswa: Membangun Sistem Pencegahan Dini terhadap Masalah pada Kesehatan Mental Siswa.”
Alaric memilih tema tersebut berdasarkan topik yang disediakan panitia, yaitu “Suara Pelajar, Algoritma Peradaban”, dengan memilih subtema #SehatMental.
“Saya menulis opini ini berdasarkan topik yang memang disediakan oleh panitia, yakni ‘Suara Pelajar, Algoritma Peradaban’, dan saya memilih subtema #SehatMental karena saya merasa bahwa kesehatan mental siswa adalah hal yang harus diperhatikan bukan hanya ketika mereka mengalami krisis, tetapi sejak awal mereka masuk sekolah,” jelasnya.
Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan mental siswa perlu dilakukan secara preventif melalui lingkungan pendidikan yang mendukung, bukan hanya ketika siswa sudah menghadapi persoalan serius.
Siswa sebagai Bibit, Budaya Sekolah sebagai Tanah
Salah satu gagasan yang dianggap kuat dalam tulisan Alaric adalah analogi siswa sebagai bibit, sedangkan budaya sekolah diibaratkan sebagai tanah.
“Salah satu tulisan saya yang paling kuat ialah sebuah analogi bahwa siswa diibaratkan sebagai bibit, sementara budaya di sekolah diibaratkan sebagai tanah. Karena sehebat apa pun bibitnya, ia akan sulit tumbuh jika tanahnya gersang,” ungkapnya.
Melalui analogi tersebut, Alaric ingin menunjukkan bahwa perkembangan siswa tidak hanya ditentukan oleh potensi individu, tetapi juga oleh lingkungan tempat mereka belajar dan bertumbuh.
Ia berharap tulisannya dapat mendorong semakin banyak pihak untuk memberikan perhatian terhadap kesehatan mental siswa sejak awal.
“Saya berharap pembaca bisa lebih memperhatikan kondisi kesehatan mental siswa semenjak awal masuk sekolah, bukan hanya ketika mereka sedang mengalami krisis. Saya juga mengajak untuk menciptakan budaya yang baik di sekolah,” tutur Alaric.
Prestasi dan Kepemimpinan Berjalan Bersama
Selain sebagai siswa berprestasi, Alaric saat ini mengemban amanah sebagai Ketua IPM Spemdalas periode 2026–2027. Prestasi dalam lomba opini tersebut menjadi pengalaman yang selaras dengan perannya sebagai pelajar sekaligus pemimpin organisasi.
Pembina IPM Spemdalas menyampaikan bahwa capaian Alaric diharapkan dapat menjadi motivasi sekaligus teladan bagi seluruh pengurus IPM dalam menjalankan amanah kepemimpinan.
“Kami berharap prestasi yang diraih Alaric dapat menjadi teladan bagi seluruh pengurus IPM Spemdalas, khususnya dalam menjalankan amanah kepemimpinan. Sebagai Ketua IPM periode 2026–2027,” katanya.
Dia berharap mampu menunjukkan bahwa seorang pemimpin pelajar tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga mampu berprestasi, berpikir kritis, dan menyuarakan gagasan yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekolah,” tutup Octaria selaku pembina IPM. (*)
Penulis Dina Hanif Mufidah. Editor Ichwan Arif.












