
Selawe.com – Kebahagiaan sejati bukan sekadar tentang kesenangan yang dirasakan di dunia, tetapi juga tentang meraih kesuksesan di dunia dan akhirat.
Pesan tersebut menjadi inti Kajian Santri awal Oktober 2026 Spemdalas Boarding School (SBS) yang mengangkat tema “Kebahagiaan yang Sesungguhnya” yang disampaikan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik.
Kajian berlangsung di ruang Coding and AI Center (CAC) 1 selepas salat Magrib, Selasa (6/10/2026) yang diikuti 19 santri putra dan 18 santri putri dengan didampingi dua musyrif dan dua musyrifah.
Ichwan Arif menyiapkan tujuh slide presentasi untuk menyampaikan materi kepada para santri. “Perbaiki Salatmu, Allah Akan Memperbaiki Hidupmu, ”mengawali kajian dengan menampilkan sebuah slide dengan kalimat singkat dan lugas.
“Perbaiki salatmu, maka Allah akan memperbaiki hidupmu.”
Pesan tersebut seolah langsung menohok dan mengajak para santri untuk melakukan introspeksi. Menurut materi yang disampaikan, kebahagiaan yang sesungguhnya dapat diraih melalui kesuksesan di dunia dan akhirat.
Untuk mencapainya, diperlukan usaha untuk istiqamah dalam kebaikan, termasuk membiasakan diri melakukan amal-amal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa pesan utama yang disampaikan dalam kajian tersebut antara lain. Sesibuk apa pun dan dalam keadaan apa pun, jangan lupa bersyukur, perbaiki salat, maka Allah akan memperbaiki kehidupan, lakukan kebaikan-kebaikan kecil secara berulang dengan ikhlas, dan bersedekah.
“Yang terakhir adalah muliakan orang tua,” pesannya.
Pesan-pesan tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dicari melalui sesuatu yang besar. Kebahagiaan dapat tumbuh dari kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten, ikhlas, dan penuh kesadaran.
Kebaikan Kecil yang Membawa Kebahagiaan
Santri SBS kelas IX Alexandria Fakhri Aydyn Rabbani mengaku mendapatkan pelajaran penting dari kajian tersebut.
Santri yang memiliki hobi membaca dan menonton film itu menilai bahwa memperbaiki ibadah dan memperbanyak sedekah merupakan bagian penting dalam meraih kebahagiaan.
“Menurut saya, jika kita terus memperbaiki salat, maka Allah akan memperbaiki hidup kita. Kita juga perlu banyak berinfak dan bersedekah agar kesalahan diampuni dan nilainya dilipatgandakan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala,” paparnya mantap.
Fakhri juga berharap kajian berikutnya dapat membahas materi tentang rukun Islam, khususnya ibadah haji dan umrah.
“Saya ingin mendapat materi tentang rukun Islam, terutama rukun Islam kelima, yaitu ibadah haji dan umrah, karena itu bagian dari cita-cita saya,” harapnya.
Sementara itu, Gerardo Rezvan Naufal Sutyarno, santri kelas IX Istanbul, mengaku mendapatkan banyak ilmu dari kajian tersebut. Santri yang memiliki hobi bermain sepak bola, jogging, silat, dan berenang itu menyadari bahwa kebahagiaan dapat dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana.
“Alhamdulillah, malam ini banyak menerima ilmu. Ternyata kebaikan kecil yang istiqamah dilakukan, seperti infak, selalu salat Duha, mendoakan kedua orang tua, dan jogging, dapat membuat kita bahagia dunia dan akhirat,” ungkapnya.
Ingin Terus Membahagiakan Orang Tua
Lebih dari sekadar memahami materi, kajian tersebut juga mendorong santri untuk menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Gerardo mengatakan, setelah mengikuti kajian, ia ingin terus berusaha membahagiakan kedua orang tuanya.
“Saya ingin terus membahagiakan orang tua,” ujarnya singkat dan jelas.
Ia pun menyadari bahwa membahagiakan orang tua tidak harus dilakukan dengan sesuatu yang besar. Menjadi anak yang baik dalam ucapan dan perilaku, belajar dengan sungguh-sungguh, serta berusaha memperoleh hasil belajar yang baik merupakan bentuk nyata dari baktinya kepada orang tua.
“Saya harus menjadi orang benar dalam ucapan dan tingkah laku, berusaha untuk selalu mendapatkan nilai yang baik, dan belajar bersungguh-sungguh,” ungkapnya dengan mata berbinar. (*)
Penulis Mochammad Nor Qomari. Editor Ichwan Arif.












