Liputan

Meniti Jalan Hijrah Menuju Husnul Khatimah

16
×

Meniti Jalan Hijrah Menuju Husnul Khatimah

Sebarkan artikel ini

Selawe.com – SD Muhammadiyah GKB Gresik (Mugeb Primary School) bersama Ikatan Wali Murid (Ikwam) Mugeb menggelar Halaqoh Ummah yang menggugah kesadaran ratusan wali murid di Averroes Hall. Acara yang mengusung tema “Hijrah Hingga Husnul Khotimah” ini menghadirkan Ketua Divisi Dakwah BikersMu Surabaya, Carlos L. Prawirosastro, M.Pd.I., sebagai narasumber utama.

Di hadapan para peserta, Carlos mengajak seluruh orang tua merenungkan kembali tujuan akhir kehidupan keluarga mereka melalui materi yang mendalam dan membumi. Carlos membuka pemaparannya dengan melontarkan pertanyaan reflektif yang langsung merasuk ke dalam benak para orang tua yang hadir.

Ia menyoroti peliknya tantangan mengasuh anak di tengah gempuran era modern yang kerap memicu kecemasan kolektif di tengah masyarakat. “Sudahkah kita menyiapkan akhir dari cerita kita dan anak kita? Kita sibuk karier, rumah, prestasi. Sekarang banyak mengalami kecemasan, ada quarter life crisis di anak muda 25 tahunan,” ujar Carlos menegaskan realitas psikologis generasi muda saat ini.

Ia membeberkan, meskipun anak-anak masa kini tumbuh sebagai generasi yang paling terkoneksi secara digital, mereka justru memegang rekor sebagai generasi yang paling kesepian.

“Paparan layar gawai yang berlebihan serta konsumsi video pendek secara masif membuat otak kehilangan kapasitas untuk fokus dalam menjalani kehidupan nyata,” terangnya.

Akibatnya, standar hidup yang tidak realistis terbentuk di dalam diri mereka. Hal ini, kata Carlos, memicu gelombang rasa kurang bersyukur, hingga mengobarkan gejolak batin yang berujung pada tindakan destruktif.

“Baru-baru ini ada mahasiswi bunuh diri di kamar kosnya. Ada pula yang mengakhiri hidup dengan pinjol dan judol. Ini bukan husnul khotimah tapi suhul khotimah. Maka kita mau kaji, hijrah sampai husnul khatimah. Bau-baunya kiamat sudah dekat,” ungkap Carlos dengan nada prihatin.

Ia mengingatkan para orang tua agar tidak terjebak pada orientasi kuantitas anak semata, melainkan memfokuskan energi pada kualitas pendidikan generasi penerus. Carlos lantas mengajak audiens untuk sejenak menarik napas dan menyelami keheningan batin demi memperkuat ikatan emosional dengan buah hati mereka.

“Mari menunduk sejenak, bayangkan, wajah anak anda yang malam ini sedang tidur nyenyak. Lalu bayangkan pada sebuah malam, puluhan tahun lagi, ketika kita sudah renta, anak kita menjenguk,” ajak Carlos penuh penghayatan.

Membangun Rumah Sakinah

Menjalin kedekatan yang erat antara orang tua dan anak, kata Carlos, membawa dampak positif yang masif terhadap stabilitas mental dan emosional jiwa muda. Ia menjelaskan, relasi yang hangat mampu meredam kecemasan anak secara signifikan, sekaligus membentengi mereka dari pengaruh buruk lingkungan luar. Anak-anak membutuhkan kehadiran fisik dan psikologis orang tua agar mereka merasakan ketenangan batin setiap kali pulang ke rumah.

“Kedekatan anak dan ortu dampaknya banyak. Emosinya stabil, mentalnya kokoh, kecemasan menurun. Anak-anak harus dekat sama kita. Kalau nggak dekat, mereka kalau pulang tidak tenang. Padahal… di An-Nahl ayat 80,” jelas Carlos menggarisbawahi pentingnya fungsi rumah sebagai tempat perlindungan.

Untuk mewujudkan kondisi tersebut, setiap keluarga wajib membangun suasana rumah sakinah yang berpusat pada kehadiran utuh (mindful presence). Orang tua perlu menciptakan ruang interaksi berupa obrolan hangat tanpa sekat pembatas, menjadikan rumah sebagai tempat memulihkan energi mental melalui ikatan batin yang kuat, serta memposisikan diri sebagai pusat keberkahan dan doa bagi anak-anak.

Keberlangsungan hubungan baik antara orang tua dan anak bahkan melampaui batas kehidupan dunia melalui aliran pahala yang tidak terputus. Carlos menerangkan, kedudukan orang tua dapat ditingkatkan di surga berkat permohonan doa yang tulus dari anak-anak mereka. Kontribusi amal saleh anak secara otomatis menyambung kepada orang tua karena anak merupakan bagian dari usaha didikan mereka semasa hidup.

“Setiap kali anak melakukan amal saleh, anak dapat pahalanya. Ortu tetap dapat pahala yang sama persis. Anak Mugeb baca Qur’an dan sholat di sekolah, dapat pahala. Kita yang di rumah dapat pahala yang sama,” tutur Carlos memberikan motivasi besar bagi para orang tua.

Memindahkan Hati menuju Keridaan Illahi

Memahami makna hijrah secara komprehensif menuntut setiap Muslim untuk melihatnya lebih dari sekadar perpindahan tempat secara fisik. Carlos menguraikan bahwa Al-Qur’an membagi cakupan hijrah ke dalam tiga ranah utama yang mencakup aspek lahiriah, batiniah, serta orientasi pengabdian mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya.

“Hijrah secara bahasa pindah tempat. Secara makna, bisa hijrah lisan, hati, amal. Di Al-Qur’an ada tiga cakupan hijrah,” ujar Carlos.

Pertama, lahiriah (tempat). Kedua, batiniah (makna). Dari maksiat ke ketaatan, dari keburukan ke kebaikan. Ketiga, hijrah ke Allah dan Rasul. Mengarahkan seluruh yang dilakukan untuk meraih rida Allah.

“Rida suami berbanding lurus dengan rida Allah. Kita sebagai istri harus minta rida suami,” kata Carlos memaparkan keluasan makna hijrah.

Ia juga mengingatkan para orang tua untuk senantiasa menjaga lisan di dalam lingkungan rumah tangga agar anak-anak selamat dari ketajaman kata-kata yang melukai jiwa. Orang yang berhijrah secara sungguh-sungguh pasti akan meninggalkan segala hal yang dilarang oleh Allah, diiringi dengan niat ikhlas yang mendasari setiap amal perbuatan sebagaimana termaktub dalam surat An-Nisa ayat 100.

Meluruskan orientasi hijrah di tengah fenomena masa kini memerlukan pemahaman yang lurus agar tidak terjebak pada simbol-simbol artifisial semata. Berdasarkan tinjauan literatur dan tafsir ulama besar, hakikat hijrah memiliki dimensi yang sangat luas:

  • Tafsir Al-Azhar (Buya Hamka): Memandang hijrah bukan sebagai pelarian sesaat, melainkan rangkaian perjuangan berat yang berkesinambungan.
  • Tafsir Al-Mishbah (M. Quraish Shihab): Menegaskan hijrah sebagai proses perubahan menyeluruh menuju nilai-nilai agama yang kokoh.

Bagi Carlos, hijrah sejati adalah perubahan total akhlak dan kerendahan hati, bukan sekadar ganti kostum untuk dihakimi atau menghakimi.

Merawat Istikamah menuju Husnul Khatimah

Menutup rangkaian kajian spiritual tersebut, Carlos mengingatkan, kematian bukanlah sebuah pilihan yang dapat diatur oleh manusia, melainkan ketetapan mutlak yang menuntut penjagaan iman setiap hari. Ia mengutip ayat Al-Qur’an dari surat Ali ‘Imran ayat 102 yang mengingatkan umat Islam untuk senantiasa bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa hingga ajal menjemput dalam keadaan berserah diri.

“Kematian bukanlah pilihan kita. Perintah ini turun pada masa hidup, menuntut penjagaan iman setiap hari, agar kapan pun ajal menjemput, kita dalam keadaan Muslim,” tegas Carlos mengutip firman Allah SWT:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 102)

Untuk menggapai akhir hayat yang husnul khatimah, setiap Muslim diwajibkan untuk menempuh jalan istikamah dalam berhijrah secara konsisten. Carlos menceritakan betapa beratnya ayat tentang istikamah hingga membuat Rasulullah SAW beruban tatkala memikirkannya. Ia mengibaratkan proses keimanan bagaikan sebuah jembatan kokoh.
“Iman kuatkan di awal. Jembatannya istikamah. Ujungnya husnul khatimah,” jelas Carlos.

Ia berpesan agar umat Islam tidak pernah merasa aman dengan amal ibadah yang dikerjakan hari ini, serta menjauhi sikap sombong yang dapat merusak pahala tersembunyi. Kebiasaan hidup dalam kebaikan akan mengantarkan seseorang pada akhir hayat yang baik pula. Oleh karena itu, menjaga konsistensi amal, meskipun kecil namun dilakukan secara terus-menerus, merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT.

Carlos menutup sesinya dengan mengajak seluruh jemaah untuk senantiasa melafalkan doa penguat hati agar senantiasa berada di jalan-Nya: “Ya muqollibal qulub, tsabit qolbi aladdinik.” (*)

Penulis Sayyidah Nuriyah