Ngilmui Siyam

Ramadan di Era Serba Instan: Mengajarkan Jeda pada Generasi yang Terbiasa “Sekarang Juga”

48
×

Ramadan di Era Serba Instan: Mengajarkan Jeda pada Generasi yang Terbiasa “Sekarang Juga”

Sebarkan artikel ini
Di tengah dunia yang selalu berkata “sekarang juga”, Ramadan diam-diam mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi penting: tunggu dulu.
Ilustrasi AI

Oleh Qoonita Rizka Syafana, S.Pd, Guru SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School).

Selawe.com –  “Ustazah, at least aku tidak marah-marah saat Ramadan, ya… Cetas!” Kalimat itu keluar dari salah satu murid saya ketika ia hampir terpancing emosi oleh temannya. Saya spontan tertawa. Namun setelah itu saya sempat berpikir, jangan-jangan itu justru bentuk refleksi paling jujur yang pernah saya dengar dari seorang anak.

Saya adalah guru Generasi Z, sementara murid-murid saya Generasi Alpha. Mereka lahir pada zaman ketika internet sudah ada di tangan sejak kecil. Informasi datang bahkan sebelum mereka mencarinya dan jawaban sering muncul sebelum pertanyaan selesai terucap. Dunia mereka bergerak cepat—kadang terlalu cepat.

Di kelas, respons spontan sering kali terlihat. Jika tidak setuju, mereka langsung bereaksi. Ketika kesal, mereka segera membalas. Saat menginginkan sesuatu, maunya sekarang juga. Budaya serba instan ini perlahan membentuk cara berpikir mereka: segala sesuatu terasa harus terjadi dengan cepat.

Di tengah situasi seperti itu, Ramadan justru datang membawa sesuatu yang berbeda: jeda. Pasalnya, puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus. Di balik itu ada latihan yang jauh lebih penting, yaitu belajar menahan diri. Lapar datang, tetapi makan ditunda. Haus terasa, tetapi minum ditahan. Emosi muncul, tetapi kita belajar untuk tidak langsung bereaksi.

Ramadan Latihan Menekan Tombol Jeda

Kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bertindak justru menjadi keterampilan yang semakin langka di era digital. Dunia maya mendorong orang untuk bereaksi cepat—komentar netizen tulis tanpa banyak berpikir, emosi anak luapkan tanpa jeda, dan keinginan mereka penuhi dengan sekali sentuh layar.

Tanpa kita sadari, kebiasaan tersebut perlahan membentuk krisis pengendalian diri, terutama pada generasi yang tumbuh bersama teknologi. Dalam konteks inilah Ramadan menjadi penting, karena ia menghadirkan latihan sederhana tetapi mendasar: menunda, menahan, dan mempertimbangkan sebelum bertindak.

Karena itu, ketika murid saya berkata, “At least aku tidak marah-marah,” saya merasa itu bukan kalimat sepele. Justru di situlah proses belajar sedang terjadi.

Saya pernah bertanya kepada murid-murid di kelas, “Apa yang paling sulit kamu tahan selama puasa?” Jawabannya bermacam-macam. Ada yang mengatakan menahan emosi. Selain itu, ingin membalas ejekan teman, tetapi mencoba diam. Yang lain, mengaku sulit menahan diri untuk tidak bermain gim terlalu lama. Dari situ saya menyadari satu hal: anak-anak sebenarnya memahami diri mereka sendiri. Mereka tahu kelemahan mereka. Ramadan memberi ruang untuk menyadarinya.

Di sekolah, Ramadan sering erat dengan kegiatan seperti pesantren kilat, berbagi takjil, atau lomba keagamaan. Semua itu baik. Namun, tanpa refleksi, kegiatan tersebut kadang hanya menjadi rutinitas yang berlalu begitu saja. Padahal esensi Ramadan bisa jauh lebih dalam: mengajarkan bahwa tidak semua emosi meluap tanpa batas, tidak semua keinginan harus langsung terpenuhi, dan tidak semua dorongan harus kita ikuti.

Pendidikan Karakter dalam Jeda Sederhana

Sebagai guru Generasi Z, saya juga belajar, pendekatan kepada anak tidak harus selalu formal. Kadang kita bisa masuk melalui bahasa, candaan, bahkan tren yang mereka gunakan sehari-hari. Namun nilai yang ingin disampaikan tetap sama: belajar bertanggung jawab, memiliki empati, dan mampu mengendalikan diri.

Kalimat seperti “at least aku tidak marah-marah” mungkin terdengar sederhana. Namun bagi saya, itu sudah sebuah langkah belajar. Pendidikan tidak selalu menghasilkan perubahan besar yang langsung terlihat. Kadang perubahan itu hanya berupa satu kalimat yang tidak jadi diucapkan atau satu emosi yang berhasil ditahan.

Ramadan tidak menuntut kita menjadi sempurna dalam satu bulan. Namun setidaknya ia mengajarkan kita untuk menjadi sedikit lebih baik daripada hari sebelumnya. Jika setelah Ramadan anak-anak bisa berkata, “At least aku belajar menahan diri,” rasanya itu sudah cukup. Karena di tengah dunia yang selalu berkata “sekarang juga”, Ramadan diam-diam mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi penting: tunggu dulu. (*)

Editor: Sayyidah Nuriyah

Ilustrasi Opini Itikaf Hati 1
Blog

Jika i’tikaf adalah soal “pemutusan hubungan,” satu kesibukan…