
Ramadan seharusnya dapat menjadi momen untuk mengelola mana kebutuhan dan mana yang merupakan keinginan semata.
Oleh Musrifatul Jannah, S.Psi.; guru Bimbingan Konseling (BK) SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik
Selawe.com – Bulan Ramahan selalu hadir dengan suasanya yang khas, masjid dan musala menjadi ramai, lantunan ayat suci Al-Quran terdengar di berbagai tempat dan masyarakat semakin bersemangat untuk meningkatkan ibadahnya.
Secara spiritual, Ramadan merupakan momen melatih diri kita untuk menahan diri dari segala macam hawa nafsu.
Namun, di tengah suasana religius tersebut, terdapat fenomena yang bertolak belakang. Yakni meningkatnya perilaku konsumtif masyarakat di bulan Ramadan.
Pusat berbelanjaan dipenuhi berbagai promo dan diskon Ramadan. Restoran dan café ramai dengan agenda buka bersama yang silih berganti.
Di sepanjang jalanraya penuh dengan orang berjualan makanan untuk berbuka puasa. Di sisi lain, tradisi bertukar hampers menjelang lebaran semakin berkembang dan bahkan menjadi tren di berbagai kalangan.
Kondisi ini dapat dijelaskan melalui konsep impulse buying atau pembelian impulsif. Istilah ini merujuk pada perilaku membeli yang terjadi secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya. Dalam banyak kasus, keputusan membeli tidak lagi didasarkan pada kebutuhan melainkan pada keinginan.
Pada bulan Ramadan, perilaku impulse buying juga sering dipicu oleh kondisi fisik saat berpuasa. Ketika seseorang berada dalam keadaan lapar menjelang waktu berbuka, muncul fenomena yang dalam keseharian sering disebut dengan “lapar mata”.
Berbagai jenis makanan yang terlihat menarik di pasar takjil atau pusat perbelanjaan dapat memicu keinginan untuk membeli lebih banyak dari yang diperlukan.
Di sisi lain, faktor sosial juga turut berperan dalam meningkatnya pengeluaran selama Ramadan. Agenda buka bersama sering kali menjadi kegiatan wajib sepanjang bulan puasa.
Mulai dari pertemuan dengan teman sekolah, rekan kerja, komunitas hingga keluarga besar. Pada dasarnya kegiatan ini memiliki nilai positif karena mempererat silaturahmi, akan tetapi frekuensi pertemuan yang sering juga dapat memicu pengeluaran tambahan yang tidak perlu.
Fenomena serupa juga terlihat pada tradisi bertukar hampers menjelang lebaran. Saat ini tradisi tersebut mulai berkembang menjadi trend sosial.
Tidak sedikit orang yang merasa perlu memberikan hampers dengan nilai tertentu sebagai bentuk menjaga relasi dan penghargaan terhadap orang lain.
Jika dicermati lebih jauh, kondisi tersebut sebenarnya berlawanan dengan esensi puasa itu sendiri. Di mana bulan puasa mengajarkan kita untuk mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari perilaku pengendalian diri bentuknya bisa bermacam-macam termasuk perilaku konsumtif itu sendiri.
Ramadan seharusnya dapat menjadi momen untuk mengelola mana kebutuhan dan mana yang merupakan keinginan semata.
Ketika seseorang mampu menahan diri terhadap sesuatu yang sebetulnya tidak dibutuhkan di situlah makna pengendalian diri yang diajarkan bulan Ramadan mulai terwujud. Sehingga kita bisa menjalani hidup dengan sederhana, bijak dan penuh kesadaran dalam setiap keputusan yang kita ambil. (*)
Editor Ichwan Arif.












