Liputan

Dari Pengusaha hingga Calon Dokter, Alumni Berlian Primary School Berbagi Kisah Sukses di INB

21
×

Dari Pengusaha hingga Calon Dokter, Alumni Berlian Primary School Berbagi Kisah Sukses di INB

Sebarkan artikel ini
INB
Panelis Pertama Muhammad Ary Gimnastiar (memegang Mic), ketiga alumni dan Ustadz Ihdal sebagai moderator sharing session saat INB (Albani Khamenei)

Selawe.com – Suasana hangat Ramadan di SD Muhammadiyah GKB 2 Gresik (Berlian Primary School) terasa berbeda.

Bukan sekadar buka puasa bersama, ratusan siswa justru diajak menatap masa depan melalui kisah nyata para alumniyang telah menapaki beragam jalan sukses.

Sekolah tersebut menggelar Ifthar Ning Berlian (INB) bertema Ramadhan Penuh Cinta, Bersama Menuju Kemenangan, Senin (6/3/2026) dengan menghadirkan alumni lintas angkatan sebagai panelis inspiratif. Kegiatan ini diikuti siswa kelas V, VI dan alumni angkatan pertama hingga ke-11.

Panelis pertama, Muhammad Ary Gimnastiar, alumni angkatan pertama yang kini berprofesi sebagai pengusaha, langsung memantik antusiasme peserta.

“Siapa yang ingin menjadi pengusaha? Angkat tangan,” tanyanya. Serentak, para peserta mengangkat tangan dengan penuh semangat.

Ia kemudian mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam berwirausaha bukan terletak pada ide, melainkan keberanian untuk memulai.

“Banyak orang punya ide bagus, tapi takut gagal dan takut rugi. Padahal kegagalan itu bagian dari proses belajar,” ujarnya.

Pengusaha muda di bidang manufaktur, yang bergerak pada sektor perikanan dan kebutuhan rumah tangga dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan itu, mengaku telah menanamkan mimpi menjadi pengusaha sejak duduk di bangku SMP.

Ia juga menyebut pengalaman Entrepreneur Day di sekolah sebagai salah satu titik awal keberaniannya mencoba.

Panelis kedua, Muhammad Juan Alfawazi, alumni angkatan keempat, mengaku terharu bisa kembali ke sekolah yang membesarkannya. “Saya teringat masa-masa dulu, sering remidi, tapi itu justru jadi kenangan indah,” katanya.

Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan di SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik dan aktif dalam kegiatan keagamaan. Kini, ia tengah menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian di Semarang.

“Kalau ingin menjadi mutiara, kita harus fokus. Sejak kecil saya bercita-cita menjadi polisi, dan saya ingin menjadi polisi yang tetap membawa nilai-nilai keislaman,” ujarnya.

Ia menambahkan, nilai-nilai tersebut terus ia praktikkan, salah satunya dengan aktif dalam kegiatan keagamaan di lingkungan akademi.

Panelis ketiga, Farahiya Ajrin Devitamaya, alumni angkatan keempat yang kini menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Diponegoro, menekankan pentingnya pendidikan karakter sejak dini.

“Pembiasaan seperti shalat dhuha yang dulu dilakukan di sekolah, sampai sekarang masih saya jalankan tanpa harus diingatkan,” tuturnya.

Menurutnya, karakter yang ditanamkan sejak kecil menjadi bekal utama saat menghadapi kehidupan di perantauan.

Sementara itu, panelis keempat, Auliya’ Nabilah Sya’ban, alumni angkatan pertama yang merupakan lulusan Teknik Lingkungan Universitas Airlangga, berbagi kisah perubahan dalam dirinya.

“Saya dulu tidak suka matematika. Tapi setelah mengalami remidi, saya mulai menyadari pentingnya belajar serius,” ujarnya.

Kini, ia bekerja sebagai konsultan lingkungan di PT Pertamina Regional DKI Jakarta. Baginya, perjalanan dari tidak menyukai matematika hingga berkecimpung di bidang yang berkaitan erat dengan angka menjadi pelajaran berharga. “Matematika, dari benci menjadi cinta,” katanya. (*)

Penulis Waviq Amiqoh. Editor Ichwan Arif.