
Motivator nasional Asnando Danu menyampaikan materi bertema Mengisi Tangki Eksistensi dan Validasi pada Gen Z di Spemdalas, Sabtu (18/4/2026).
Selawe.com – Kegiatan parenting wali siswa kelas VIII di SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik berlangsung penuh kehangatan, tawa, sekaligus refleksi mendalam di Coding and AI Center 1 (CAC 1) Room, Sabtu (18/4/26).
Menghadirkan motivator nasional Asnando Danu, tema Mengisi Tangki Eksistensi dan Validasi pada Gen Z terasa sangat dekat dengan realitas orang tua masa kini. Sejak awal, suasana dibuat cair dan ceria.
Peserta diajak menyadari bahwa cara mendampingi anak hari ini tidak bisa disamakan dengan pola lama. Anak-anak Gen Z tidak hanya butuh diarahkan, tetapi juga ingin didengar, dipahami, dan dihargai keberadaannya.
Dalam materinya, Asnando menekankan pentingnya perubahan dari diri orang tua. Ia menyebut konsep 4B sebagai kunci awal menjadi bestie bagi anak.
Pertama, berubah mulai dari diri sendiri. Orang tua perlu menyesuaikan gaya komunikasi dengan fase perkembangan anak. Saat anak masih SD, mereka berada di fase bertanya sehingga membutuhkan penjelasan yang sederhana dan mudah dipahami.
“Namun ketika memasuki usia SMP, mereka justru berada di fase ingin berbicara. Jika orang tua masih menggunakan pendekatan menasihati, anak cenderung menolak bahkan marah,” katanya.
Di sinilah, tekannya, orang tua perlu belajar mengubah gaya, dari yang semula banyak memberi nasihat menjadi lebih banyak bertanya.
“Pertanyaan yang tepat akan membantu anak menemukan solusi dari dirinya sendiri. Peran orang tua pun bergeser menjadi layaknya coach yang mendampingi, bukan hakim yang menghakimi,” ucapnya.
Kedua, berikan pemahaman dan contoh, bukan bentakan. Dalam praktiknya, masih banyak orang tua yang tanpa sadar membentak, memberi label, atau memaksakan kehendak kepada anak. Padahal, pendekatan seperti ini justru menjauhkan anak.
Sebaliknya, sambungnya, orang tua diajak untuk merespons dengan tenang melalui proses validasi, mendengarkan, memahami, lalu memberikan saran.
Remaja, menurutnya, sangat membutuhkan eksistensi dan validasi. Mereka ingin diakui keberadaannya sekaligus dipahami perasaannya.
Ketiga, berikan kenangan indah dan waktu yang berkualitas. Hal sederhana seperti tidak meninggalkan rumah dalam kondisi marah menjadi penting karena kenangan emosional akan tersimpan kuat dalam ingatan anak.
Selain itu, kehadiran orang tua secara utuh saat bersama anak tanpa distraksi gadget menjadi bentuk perhatian yang sangat berarti.
Dalam sesi ini juga dibahas tentang bahasa cinta anak. Setiap anak memiliki cara berbeda dalam merasakan kasih sayang, mulai dari pujian dan dukungan, waktu berkualitas, sentuhan, hingga pelayanan.
Ketidaksesuaian antara cara orang tua memberi dan cara anak menerima sering kali membuat kasih sayang tidak tersampaikan dengan baik.
“Seringnya orang tua merasa sudah mencintai, tapi anak tidak merasakannya. Karena bahasanya berbeda,” ungkapnya.
Keempat, berdoa yang terbaik untuk anak. Ikhtiar mendampingi anak perlu diiringi dengan doa yang tulus. Orang tua diajak untuk tidak hanya berusaha secara lahir, tetapi juga menguatkan batin melalui doa.
Sebagai penutup, Asnando Danu mengajak para orang tua untuk tetap kuat dan sabar dalam mendampingi anak remaja.
“Kalau capek punya anak remaja, yakinlah masa ini akan segera lewat. Akan ada masa di mana anak tidak lagi bertanya kepada orang tuanya. Saat itu tiba, justru kita akan rindu dengan momen-momen hari ini,” pesannya.
Ia pun mengajak orang tua untuk mulai berubah dari diri sendiri agar anak ikut bertumbuh menjadi lebih baik.
“Yuk kita berubah dulu, agar anak kita juga berubah menjadi lebih baik. Semoga anak-anak kita menjadi anak yang shalih dan shalihah,” tutupnya. (*)
Penulis Ria Rizaniyah. Editor Ichwan Arif












