Liputan

Dari Kebersamaan ke Perpisahan, Air Mata Iringi Penutupan Suju Smamio

86
×

Dari Kebersamaan ke Perpisahan, Air Mata Iringi Penutupan Suju Smamio

Sebarkan artikel ini
Suju Smamio
Ashauma Kamil sedang berpelukan dengan ibu orang tua asuh

Selawe.com – Penutupan kegiatan Spiritual Journey yang diselenggarakan oleh SMA Muhammadiyah (Smamio) 10 GKB Gresik pada Jumat (24/4/2026) berlangsung penuh haru dan tidak sekadar menjadi acara seremonial.

Kegiatan tersebut digelar di Masjid Nurul Huda, Desa Latukan, dan dihadiri oleh siswa, panitia, serta orang tua asuh.

Sejak awal acara, raut wajah para siswa menunjukkan bahwa perpisahan ini bukanlah hal yang mudah. Kebersamaan yang terjalin sejak Selasa (21/4/2026) bersama orang tua asuh telah berkembang menjadi ikatan emosional yang tulus, melampaui sekadar program sekolah.

Interaksi sederhana dalam kehidupan sehari-hari—mulai dari makan bersama, beribadah, hingga berbincang pada malam hari—telah membangun kedekatan yang mendalam.

Suasana haru semakin terasa saat sesi penyampaian kesan dan pesan. Nida Ulhaq, siswi kelas XI 5, menyampaikan pengalamannya dengan suara bergetar. Ia mengungkapkan bahwa dirinya merasa diterima sepenuh hati oleh keluarga asuhnya.

“Selama di sini, saya benar-benar merasa seperti di rumah sendiri. Saya dirawat, dibimbing, dan disayangi seperti anak kandung,” tuturnya sebelum suaranya terhenti oleh isak tangis.

Dengan mata berkaca-kaca, Nida juga berharap hubungan yang telah terjalin tidak terputus oleh waktu dan jarak. Ia ingin silaturahmi tetap terjaga dan berlanjut di masa mendatang.

“Semoga ini bukan akhir. Saya ingin tetap kembali dan menyambung silaturahmi dengan keluarga yang sudah begitu baik kepada saya,” lanjutnya.

Suasana semakin haru ketika M. Falih, siswa kelas XI 2, maju untuk menyampaikan kesannya. Ia belum sempat menyelesaikan kalimat pertamanya ketika air matanya mulai mengalir. Kenangan selama kegiatan membuatnya tidak mampu menahan emosi.

Tangis Falih turut mengundang keharuan para hadirin. Beberapa siswa tampak menyeka air mata, dan suasana masjid sempat hening, dipenuhi isak tangis yang saling bersahutan.

Di sisi lain, Ashauma Kamil, siswi kelas XI 1, juga tidak kuasa menahan kesedihan. Ia menangis sambil memeluk erat ibu dari keluarga asuhnya. Pelukan tersebut berlangsung lama, seolah enggan dilepaskan, menjadi ungkapan perasaan kehilangan yang mendalam.

Tidak hanya siswa, para orang tua asuh juga merasakan hal serupa. Perwakilan orang tua asuh, Bakhtiar, menyampaikan kesannya dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca

“Kami juga merasa kehilangan. Anak-anak ini luar biasa. Ibadahnya baik, sikapnya sopan, dan tutur katanya santun. Mereka cepat beradaptasi dan menghormati kami seperti orang tua sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kehadiran para siswa selama beberapa hari terakhir telah membawa warna tersendiri dalam kehidupan keluarga asuh. Kehadiran mereka tidak hanya memberikan pengalaman bagi siswa, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat setempat.

Sebagai penutup, panitia menayangkan video kilas balik kegiatan Spiritual Journey. Tayangan tersebut menampilkan berbagai momen, mulai dari kebersamaan, kegiatan ibadah, hingga interaksi hangat antara siswa dan keluarga asuh.

Hadirin menyimak dengan khidmat, sesekali tersenyum dan tertawa kecil melihat momen-momen yang menghangatkan hati.

Penutupan kegiatan ini tidak hanya menandai berakhirnya rangkaian Spiritual Journey, tetapi juga menjadi awal dari kenangan yang akan terus melekat.

Perpisahan yang diwarnai tangis tersebut mencerminkan kedekatan, kehangatan, serta makna mendalam yang dirasakan oleh seluruh peserta. Ikatan silaturahmi yang terjalin diharapkan tetap terjaga meskipun kegiatan telah usai. (*)

Penulis Bagus Rifani. Editor Ichwan Arif.