Liputan

Meneguhkan Guru yang Berilmu, Tawadhu, dan Berkarakter Ihsan

19
×

Meneguhkan Guru yang Berilmu, Tawadhu, dan Berkarakter Ihsan

Sebarkan artikel ini
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PCM GKB, Fiqih Risalah, M.A., Ph.D. saat menyampaikan materi

Guru tidak boleh berhenti belajar dan tidak boleh menjadi pribadi yang “buta” terhadap kondisi di sekitarnya

Selawe.com – Memasuki hari kedua rangkaian MGKB’s Gathering 2026 bertema “Gearing Up for the New Academic Session”, seluruh peserta mengawali aktivitas dengan qiyamul lail melalui shalat tahajud berjamaah di hall hotel.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan shalat sunnah qabliyah Subuh dan shalat Subuh berjamaah sebagai ikhtiar menguatkan spiritualitas sebelum memasuki agenda upgrading.

Usai ibadah Subuh, peserta mengikuti UpPenuligrading Sesi 2 yang disampaikan oleh Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PCM GKB, Fiqih Risalah, M.A., Ph.D. Dalam sesi refleksi Al-Qur’an, beliau mengangkat Q.S. Al-‘Alaq sebagai landasan penting bagi pendidik Muhammadiyah.

Beliau menegaskan bahwa perintah pertama Allah adalah iqra’ (membaca). Karena itu, guru tidak boleh berhenti belajar dan tidak boleh menjadi pribadi yang “buta” terhadap kondisi di sekitarnya. Membaca bukan hanya teks, tetapi juga mampu membaca fenomena, tantangan, dan kebutuhan zaman.

Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan bahwa setidaknya setiap muslim harus menjadi ‘Alimun bi Awamirillah, yaitu memahami dan melaksanakan perintah-perintah Allah, serta ‘Alimun bi Ayyamillah, yakni memahami tanda-tanda dan ketetapan Allah dalam perjalanan kehidupan. Beliau mengajak peserta merenungkan berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat, termasuk maraknya kasus korupsi, sebagai pengingat bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang keluar dari pengawasan dan ketetapan Allah SWT.

Mengutip riwayat dari Ibnu Abbas, beliau juga mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang saling mengingatkan dalam kebaikan, berani menasihati ketika melihat kesalahan, dan siap menerima nasihat ketika diingatkan.

Lebih lanjut, Fiqih Risalah menjelaskan karakter seorang muhsin, yaitu pribadi yang tidak hanya memahami perintah Allah, tetapi juga senantiasa merasa diawasi oleh-Nya dalam setiap keadaan. Kesadaran akan muraqabah ini menjadi pondasi lahirnya integritas dan akhlak mulia.

“Di dalam setiap hari dan waktu, kita selalu diawasi oleh Allah SWT. Maka mari kita tanamkan kepada siswa-siswa kita agar senantiasa merasa diawasi oleh Allah SWT,” pesannya.

Fiqih mengingatkan bahwa profesi guru secara psikologis berpotensi melahirkan rasa bangga terhadap diri sendiri. Oleh sebab itu, setiap pendidik harus terus menumbuhkan sikap tawadhu’, menyadari bahwa ilmu dan amanah yang dimiliki merupakan karunia Allah yang harus dijalankan dengan penuh keikhlasan. (*)

Penulis Ain Nurwindasari. Editor Ichwan Arif.