
Selawe.com – Persiapan menghadapi fase akhir pendidikan di SMA menjadi perhatian SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi bagi wali siswa kelas XII Tahun Ajaran 2026/2027 yang berlangsung di Cordoba Convention Hall Smamio, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan yang diikuti seluruh wali siswa kelas XII tersebut membahas sejumlah agenda penting yang akan dijalani siswa selama tahun terakhir di Smamio. Materi yang disampaikan mencakup Tes Kemampuan Akademik (TKA), program kelas XII, serta interpretasi hasil psikotes siswa.
Wakil Kepala Bidang Kurikulum Smamio Dr. Anis Shofatun, S.Si., M.Pd., membuka sesi dengan menyampaikan informasi mengenai TKA sekaligus berbagai program yang telah disiapkan sekolah bagi siswa kelas XII.
Menurutnya, masa kelas XII merupakan tahap yang membutuhkan kesiapan dari berbagai sisi. Tidak hanya siswa yang perlu mempersiapkan diri, tetapi sekolah dan orang tua juga perlu memiliki pemahaman yang sejalan agar dapat memberikan dukungan secara optimal.
“Kelas XII merupakan fase yang penting dalam perjalanan pendidikan siswa. Karena itu, persiapan tidak hanya dilakukan oleh siswa, tetapi membutuhkan dukungan dan pemahaman yang sejalan antara sekolah dan orang tua,” jelasnya.
Berbagai program telah disiapkan Smamio untuk mendampingi siswa selama menjalani kelas XII. Di antaranya pembinaan TKA, Try Out, pendampingan pemilihan jurusan, hingga Campus Expo yang diarahkan untuk membantu siswa mempersiapkan langkah setelah lulus.
“Kami berusaha memberikan yang terbaik untuk siswa melalui berbagai program dan pendampingan yang sudah disiapkan. Harapannya, selama di kelas XII, siswa tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga memiliki bekal yang cukup untuk melanjutkan pendidikan dan menghadapi tahap berikutnya,” ungkap Anis.
Selain kesiapan akademik, aspek psikologis siswa turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Materi mengenai Interpretasi Hasil Psikotes Siswa disampaikan oleh Ika Famila Sari, M.Psi., Psikolog, Direktur Layanan Pusat Layanan Psikologi dan Konseling sekaligus Konselor Smamio.
Dalam pemaparannya, Ika mengajak wali siswa memahami hasil psikotes sebagai informasi yang dapat membantu melihat karakteristik, potensi, serta kebutuhan pendampingan masing-masing siswa. Hasil psikotes, menurutnya, tidak semestinya digunakan untuk memberikan label tertentu kepada anak.
“Hasil psikotes bukan untuk memberikan label kepada anak, tetapi menjadi salah satu cara untuk membantu kita memahami mereka dengan lebih baik,” ujarnya.
Ika juga menjelaskan bahwa siswa kelas XII tengah berada pada fase yang sarat dengan pilihan dan tuntutan. Selain menghadapi target akademik, siswa dapat mengalami berbagai dinamika seperti kecemasan akademik, kebingungan dalam menentukan masa depan, kelelahan mental, krisis eksistensial, hingga ketidakstabilan emosi.
Karena itu, pendampingan dari orang dewasa di sekitar siswa menjadi hal yang penting. Anak-anak kelas XII tidak hanya membutuhkan arahan mengenai apa yang harus dilakukan, tetapi juga ruang untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan.
Melalui kegiatan ini, Smamio berupaya memperkuat komunikasi dan kemitraan bersama orang tua. Sekolah berperan dalam memberikan pendidikan, pengembangan kompetensi, serta pendampingan siswa, sementara keluarga menjadi lingkungan utama yang memberikan dukungan, perhatian, dan penguatan selama siswa menjalani proses menuju jenjang berikutnya. (*)
Penulis Novania Wulandari. Editor Ichwan Arif.












