
Selawe.com – Perjalanan literasi dua guru tim literasi SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School) di Solo dimuali dari sebuah ruang sunyi di sudut Masjid Raya Sheikh Zayed Solo. Bukan hanya kemegahan masjid yang menarik perhatian, tetapi juga perpustakaan modern yang tersembunyi di lantai duanya.
Begitu tiba di pelataran masjid, suasana tertib langsung terasa. Dua petugas keamanan menyambut ramah para pengunjung, Jumat (22/5/2026). Barang bawaan diperiksa melalui mesin pemindai sebelum pengunjung diarahkan masuk ke area masjid.
“Pintu tiga ke kiri untuk penitipan sandal dan sepatu,” ujar salah seorang petugas.
Pengunjung juga diingatkan agar menitipkan makanan maupun minuman sebelum memasuki area dalam masjid.
Lorong Menuju Ruang Literasi
Usai menitipkan alas kaki, perhatian kami tertuju pada sebuah papan penunjuk bertuliskan “Perpustakaan” dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Jawa. Keberadaan perpustakaan di dalam masjid tentu memantik rasa penasaran.
Kami pun menaiki tangga berputar menuju lantai dua. Setelah beberapa undakan, sampailah kami di depan ruang baca yang tenang dan sejuk.
Jarum jam menunjukkan pukul 10.50 WIB saat kami masuk. Pendingin ruangan langsung mengusir hawa panas Kota Solo siang itu. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela besar.
Suasananya hening. Hanya ada beberapa pengunjung perempuan yang tengah membaca dalam diam.
Dua petugas perpustakaan menyambut kedatangan kami dengan ramah. Pengunjung diminta mengisi daftar hadir digital melalui komputer yang tersedia. Tas besar wajib dititipkan, sementara tas kecil masih diperbolehkan masuk ke ruang baca.

Nyaman Membaca tanpa Lesehan
Interior perpustakaan dibuat sederhana namun nyaman. Karpet lembut berwarna kuning dan abu-abu membentang di seluruh ruangan. Enam meja bundar lengkap dengan kursi kayu tersusun rapi di bagian tengah.
Di sisi jendela, tersedia meja baca yang dilengkapi stopkontak. Area ini menjadi tempat ideal bagi pengunjung yang membawa laptop maupun gawai.
Rak-rak buku berjajar di sudut ruangan. Koleksinya cukup lengkap, mulai psikologi, filsafat, ilmu sosial, bahasa, sains, teknologi, hingga seni dan rekreasi. Buku-buku terbaru dipajang di bagian tengah rak sehingga mudah terlihat pengunjung.
Pengelola juga menyediakan galon isi ulang bagi pengunjung yang membawa tumbler pribadi. Namun, makanan dan minuman kemasan tidak diperbolehkan masuk ke ruang baca.
Ada aturan lain yang cukup menarik. Pengunjung tidak diperkenankan membaca sambil lesehan di atas karpet. Semua aktivitas membaca harus dilakukan di kursi yang tersedia.
Di antara deretan buku filsafat, perhatian saya tertuju pada buku Zarathustra karya Friedrich Nietzsche yang telah diterjemahkan H.B. Jassin dan tim. Buku itulah yang menemani singkatnya waktu membaca siang itu.
Sayangnya, perpustakaan ini belum menyediakan layanan peminjaman buku untuk dibawa pulang. Semua koleksi hanya dapat dibaca di tempat.
Menutup Siang di Kota Solo
Menjelang waktu salat Jumat usai, perpustakaan mulai ditutup sementara sekitar pukul 12.30 WIB. Kami pun bergegas turun untuk bersiap menunaikan salat Zuhur.
Rekan perjalanan saya, Mar’atus Sholichah, S.Pd, mengaku terkesan dengan fasilitas yang tersedia.
“Bukan cuma masjidnya yang bagus, perpustakaannya juga nyaman sekali untuk membaca,” ujarnya.
Ia juga menyukai tata ruang perpustakaan yang dinilai estetik dan koleksi bukunya yang cukup mutakhir.
Kunjungan singkat itu menjadi pembuka yang hangat dalam perjalanan literasi kami di Kota Surakarta. Di tengah hiruk pikuk kota, perpustakaan di sudut masjid ini seperti ruang jeda yang tenang bagi siapa saja yang ingin menepi sejenak bersama buku.
Setelah itu, kami bersiap menyambut hari esok, mengikuti kegiatan Puncak Festival Literasi Nyalanesia 2026 di Hotel Solo Paragon. Pasalnya, karya siswa (Feisya Almarania Hutomo) dan guru (Mar’atus Sholichah, S.Pd) terpilih dalam 100 karya terbaik tingkat nasional dan berpeluang menerima penghargaan di panggung esok.
Selain itu, Mugeb Primary School juga menerima penghargaan Sekolah Berdedikasi Literasi. Karena itulah Koordinator Literasi Mugeb Sayyidah Nuriyah, S.Psi turut mendampingi. (*)
Penulis Sayyidah Nuriyah












