Liputan

Mugeb Bekali Siswa Kelas V Jadi Pengguna Gawai Cerdas

23
×

Mugeb Bekali Siswa Kelas V Jadi Pengguna Gawai Cerdas

Sebarkan artikel ini

Konselor SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik mengedukasi siswa tentang literasi digital, penggunaan gawai sehat dan bijak melalui program BK Goes to Class.

Selawe.com — Ratusan siswa kelas V SD Muhammadiyah 1 GKB (Mugeb Primary School) memadati aula lantai 2 sekolah itu, Kamis (2/4/2026) siang. Di tengah derasnya arus digital yang akrab dengan kehidupan anak-anak, mereka diajak memahami satu hal penting: gawai bisa menjadi teman, tetapi juga bisa membawa masalah jika digunakan tanpa kendali.

Edukasi itu disampaikan Konselor Mugeb, Dwi Aprilia Pratiwi, S.Psi., dalam program BK Mengajar yang mengangkat tema literasi digital dan penggunaan gawai secara bijak.

Suasana aula tampak tertib. Para siswa duduk lesehan di atas karpet merah, menyimak materi yang disampaikan dengan bahasa ringan dan dekat dengan keseharian mereka. Di hadapan para siswa, Dwi Apriliah Pratiwi—yang akrab disapa Tiwi—mengingatkan bahwa tantangan anak masa kini tak lagi hanya soal belajar di kelas, tetapi juga bagaimana bersikap cerdas terhadap teknologi di genggaman.

“Gadget itu alat elektronik canggih yang sering kita gunakan sehari-hari, seperti HP, tablet, dan komputer. Dia bisa menjadi kawan, tapi bisa juga menjadi lawan jika kita tidak hati-hati,” ujar Tiwi.

Belajar, Komunikasi, hingga Risiko Kesehatan

Dalam pemaparannya, Tiwi menjelaskan bahwa gawai memiliki banyak manfaat bila digunakan secara tepat. Perangkat digital, kata dia, dapat membantu siswa mengakses video pembelajaran, mengerjakan latihan soal, hingga mencari informasi untuk tugas sekolah dengan lebih cepat.

Selain itu, gawai juga memudahkan komunikasi dengan keluarga maupun teman yang berjauhan. Namun, kemudahan tersebut, menurutnya, tidak boleh membuat anak kehilangan kendali atas waktu dan kebiasaan sehari-hari.

Tiwi menyoroti dampak penggunaan gawai berlebihan, mulai dari gangguan kesehatan mata, berkurangnya aktivitas fisik, hingga menurunnya kualitas tidur dan fokus belajar.

“Anak yang terlalu lama menggunakan gadget bisa merasa lelah dan kurang fokus saat belajar di sekolah,” tegasnya.

Peringatan itu disambut keseriusan para siswa yang tampak menyimak dengan saksama. Bagi anak usia sekolah dasar, paparan layar yang terlalu lama memang kerap dianggap sepele, padahal dapat berpengaruh pada kondisi fisik maupun konsentrasi belajar.

Batasi Durasi, Pilih Konten, Libatkan Orang Tua

Tak hanya membahas dampak, Tiwi juga membekali siswa dengan langkah-langkah sederhana agar tetap aman dan sehat saat menggunakan gawai. Ia menganjurkan agar penggunaan gawai dibatasi maksimal satu hingga dua jam per hari, memilih konten yang bermanfaat, serta menghindari penggunaan gawai saat makan dan menjelang tidur.

Ia juga mengingatkan pentingnya memberi jeda bagi mata setiap 30 menit agar tidak cepat lelah. Menurutnya, kebiasaan kecil semacam itu perlu ditanamkan sejak dini agar anak terbiasa menggunakan teknologi secara sehat.

Selain soal durasi, Tiwi menekankan pentingnya pendampingan orang tua. Anak-anak diminta tidak sembarangan mengakses aplikasi, permainan, maupun konten digital tanpa sepengetahuan orang dewasa.

“Gunakan bersama orang tua dan pilih gim atau aplikasi edukasi yang mendukung perkembangan otak kalian,” ujarnya.

Belajar Menjadi Tuan atas Teknologi

Dalam sesi tersebut, Tiwi juga mengajak siswa membedakan ciri pengguna gawai yang bijak dan yang tidak. Pengguna yang bijak, kata dia, akan tetap sehat, fokus belajar, dan mampu mengatur waktu. Sebaliknya, penggunaan tanpa kontrol justru bisa membuat tubuh cepat lelah, mata perih, hingga pikiran sulit berkonsentrasi.

Ia pun memberi penekanan khusus pada keamanan digital. Jika siswa menemukan konten yang tidak pantas atau membuat tidak nyaman, mereka diminta segera menutupnya dan melapor kepada orang tua atau guru.

“Jika melihat konten yang tidak baik atau membuat tidak nyaman, segera tutup dan beri tahu orang tua atau guru. Jangan takut untuk bercerita,” pesannya.

Melalui kegiatan ini, sekolah berharap siswa tidak sekadar mahir menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menggunakannya secara bertanggung jawab.

Menutup sesi, Tiwi kembali mengingatkan bahwa teknologi seharusnya membantu kehidupan manusia, bukan justru menguasainya.

“Gadget itu teman, kalau kita pakai dengan bijak,” pungkasnya.

Program BK Goes to Class ini menjadi salah satu upaya Mugeb menanamkan literasi digital sejak dini, agar siswa tumbuh bukan hanya sebagai pengguna teknologi, melainkan anak-anak yang mampu menjadi tuan atas gawainya sendiri. (*)

Penulis Yuanita Anggun Candra Yudha Editor Sayyidah Nuriyah