Liputan

Mugeb Sekolah Polisi Cilik, Satlantas Bekali Guru Etika Berkendara Aman

16
×

Mugeb Sekolah Polisi Cilik, Satlantas Bekali Guru Etika Berkendara Aman

Sebarkan artikel ini

 

Guru Mugeb memperdalam pengetahuan keselamatan berlalu lintas melalui pelatihan Safety and Defensive Driving bersama Satlantas Polres Gresik.
Waka Umum Siswanto, S.Pd.I menyampaikan sambutan.

Selawe.com – Suara mesin dari proyek renovasi gedung SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School) sesekali terdengar pada Selasa (7/7/2026). Namun, di aula lantai dua sekolah, puluhan guru mengikuti kegiatan Safety and Defensive Driving bersama Satlantas Polres Gresik dengan penuh perhatian. Mereka memanfaatkan kegiatan tersebut untuk menambah wawasan tentang keselamatan dan keamanan berlalu lintas.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Umum, Siswanto, S.Pd.I., membuka kegiatan dengan mengajak seluruh peserta memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

“Mari kita maksimalkan waktu 1,5 jam ini untuk menambah wawasan bersama Ipda Andreas Dwi Anggoro, Kanit Keamanan dan Keselamatan Lalu Lintas (Kamsel) Satlantas Polres Gresik,” imbuhnya.

Mengawali pemaparannya, Ipda Andreas Dwi Anggoro mengapresiasi prestasi Mugeb Primary School. Ia menilai sekolah tersebut berhasil membina tim Polisi Cilik (Pocil) yang mampu mengharumkan nama daerah.

“Alhamdulillah, Pocil (Polisi Cilik) Mugeb Primary School tahun kemarin bisa menyabet juara seni terbaik tingkat Polda Jatim,” puji Andreas. Ucapan itu disambut tepuk tangan para guru.

Ipda Andreas Dwi Anggoro, Kanit Keamanan dan Keselamatan Lalu Lintas (Kamsel) Satlantas Polres Gresik.

Jalan Rawan Gresik

Setelah memberikan apresiasi, Andreas memaparkan kondisi lalu lintas di Kabupaten Gresik. Ia mengungkapkan angka kecelakaan lalu lintas meningkat hingga 50 persen sepanjang tahun ini.

Ia kemudian menampilkan peta kerawanan yang memuat lokasi rawan kecelakaan, kemacetan, dan pelanggaran lalu lintas. Sebagian besar titik tersebut merupakan jalur yang setiap hari dilalui para guru.

“Kecelakaan banyak terjadi di tengah kota. Di antaranya di Jalan Dr. Wahidin SH sampai Bunder, termasuk kawasan Randuagung. Selain itu, Jalan Raya Daendels Manyar dan Jalan Raya Banjarsari Cerme juga menjadi titik rawan. Begitu pula di Jalan Raya Kepatihan Menganti,” urai Andreas.

Menurut Andreas, kondisi jalan berpengaruh terhadap perilaku pengendara. Jalan yang lurus cenderung membuat pengendara memacu kendaraan lebih cepat sehingga meningkatkan risiko kecelakaan.

“Jalan yang semakin lurus membuat orang semakin menambah kecepatan, sehingga wilayah tersebut menjadi semakin rawan kecelakaan. Saya pribadi lebih memilih jalanan macet daripada tidak. Kemacetan justru meminimalkan kecelakaan. Begitu jembatan Duduk selesai petugas perbaiki, angka kecelakaan langsung meningkat lagi,” jelasnya.

Andreas juga menyebut Jalan Raya Bunder, Cerme, Legundi, Morowudi, dan Boboh sebagai kawasan yang rutin mengalami kemacetan. Khusus di Boboh, keterbatasan ruang membuat pelebaran jalan belum dapat dilakukan.

“Di Boboh, posisi jalan sudah mepet dengan rumah warga dan banyak warung berdiri, jadi pemerintah belum bisa melakukan pelebaran jalan,” ungkapnya.

Pilar Keselamatan Berkendara

Andreas menyoroti tingginya pelanggaran lalu lintas di simpang tiga Bunder, Sukomulyo Manyar, dan Banjarsari Cerme. Menurutnya, masih banyak pengendara yang tidak mengenakan helm. Untuk mengurangi pelanggaran, Satlantas telah memasang barrier pembatas di simpang Bunder.

Ia juga menegaskan bahwa polisi akan menindak pengendara yang merekayasa pelat nomor kendaraan.

“Kami menjadikan rekayasa pelat nomor sebagai sasaran utama di jalan raya karena kendaraan tersebut terindikasi bermasalah atau merupakan pelaku kejahatan,” tegas Andreas.

Dalam kesempatan itu, Andreas menjelaskan empat faktor utama keselamatan berkendara, yaitu pengendara, kendaraan, kondisi jalan, dan cuaca. Pengendara harus memahami aturan lalu lintas, mematuhi rambu, serta menggunakan helm dan spion standar. Kendaraan juga harus dipastikan dalam kondisi layak jalan.

Selain itu, pengendara perlu mengurangi kecepatan saat melintasi jalan rusak atau berlubang. Ketika hujan deras dan angin kencang membatasi jarak pandang hingga sekitar tiga sampai empat meter, pengendara sebaiknya tidak memaksakan perjalanan.

“Kalau semua orang memperhatikan empat faktor itu, insyaallah njenengan (Anda sekalian) akan selamat di perjalanan,” tutur Andreas optimistis.

Pada akhir materi, Andreas menyampaikan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menempatkan kecelakaan lalu lintas sebagai penyebab kematian tertinggi ketiga di dunia setelah penyakit jantung dan tuberkulosis (TBC). Di Indonesia, Provinsi Jawa Timur masih menjadi penyumbang angka kecelakaan lalu lintas tertinggi karena tingginya mobilitas masyarakat dan aktivitas distribusi logistik.

Ia juga mengingatkan bahwa kelompok usia 16 hingga 29 tahun menjadi korban kecelakaan terbanyak. Pelanggaran yang sering ditemukan meliputi pengendara di bawah umur, tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM), tidak memakai helm, berboncengan lebih dari satu orang, melaju melebihi batas kecepatan, hingga melanggar rambu-rambu lalu lintas. (*)

Penulis Sayyidah Nuriyah