Ruang Opini

Menyala dalam Empat Hari: Energi Kolektif dan Refleksi Kemerdekaan di Panggung Education

24
×

Menyala dalam Empat Hari: Energi Kolektif dan Refleksi Kemerdekaan di Panggung Education

Sebarkan artikel ini
Teaterikal
Menyala dalam Empat Hari: Energi Kolektif dan Refleksi Kemerdekaan di Panggung Education

Estetika panggung sejatinya hanyalah puncak gunung es. Resep rahasia dari suksesnya pertunjukan kilat ini terletak pada trust—rasa saling percaya yang terbangun tanpa sekat.

Opini oleh Yanita Intan Sariani, guru SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik

Selawe.com – Waktu kerap jadi kambing hitam saat sebuah gagasan lahir setengah matang. Namun, di tangan para pendidik yang terbiasa berpacu dengan dinamika, keterbatasan justru bertransformasi menjadi katalis kreativitas.

Empat hari. Waktu yang teramat singkat untuk merajut sebuah sajian teatrikal puisi dari nol. Namun, tenggat ketat itulah yang justru memantik letupan performa memukau dari Kelompok 1 SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik dalam forum MGKB Upgrading 2026 di Kota Batu, Malang (31/7–1/8).

Mengusung tema besar Gearing Up for The New Academic Session yang diinisiasi Majelis Dikdasmen PNF PCM GKB Gresik, Kelompok 1 memilih jalan yang tak sekadar menghibur: menyulut kembali gelora perjuangan dan pergerakan bangsa menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia.

Orkestrasi Kepemimpinan

Di atas panggung, kombinasi olah vokal, puisi, dan gestur tubuh yang dibawakan oleh 13 pendidik dan tenaga kependidikan—Ustazah Ulya, Tadz Roni, Tadz Hudzai, Tadz Khinan, Ustazah Yuli, Ustazah Anis, Tadz Dwanda, Tadz Tubagus, Tadz Lutfi, Tadz Ali, Tadz Mifta, Tadz Hasan, dan Tadz Bagus—sukses menghipnotis ratusan pasang mata dari empat sekolah Muhammadiyah se-PCM GKB.

Namun, estetika panggung sejatinya hanyalah puncak gunung es. Resep rahasia dari suksesnya pertunjukan kilat ini terletak pada trust—rasa saling percaya yang terbangun tanpa sekat.

Di bawah komando Tadz Dwanda selaku sutradara, proses kreatif berjalan mulus tanpa riak egois. Ketika waktu begitu mendesak, debat kusir yang tak perlu dipangkas habis. Seluruh anggota menyatukan visi, menundukkan ego, dan memilih untuk patuh pada komando artikulatif sang sutradara. Ini adalah miniatur kepemimpinan ideal: eksekusi cepat, komunikasi jernih, dan kepercayaan penuh dari para anggota tim.

Menaklukkan Rasa Gentar

Bukan berarti jalan yang dilalui tanpa keraguan. Tampil di hadapan kolega sebaya dari gabungan sekolah Muhammadiyah jelas memicu stage fright. Rasa khawatir kalau-kalau sajian terasa mentah sempat membayangi.

Namun, ketakutan itu sirna begitu energi kolektif mengambil alih. Ketika setiap individu merasa bertanggung jawab atas peran kecilnya, rasa cemas menjelma menjadi kekuatan. Dan di situlah letak pelajaran berharganya: dalam dunia pendidikan yang serba cepat dan menuntut adaptasi tinggi, kolaborasi yang solid dan rasa saling percaya adalah benteng pertahanan terbaik.

Teatrikal puisi kemerdekaan Kelompok 1 Smamio bukan sekadar pemuas selingan acara upgrading. Ia adalah cermin. Mengingatkan para pendidik bahwa menyambut tahun ajaran baru membutuhkan spirit yang sama seperti para pejuang kemerdekaan: keberanian mengambil peran, kesiapan berproses di tengah keterbatasan, serta harmoni dalam melangkah bersama. Sebab pada akhirnya, karya yang hebat tak selalu lahir dari waktu yang lapang, melainkan dari kedalaman komitmen dan kekuatan kerja sama. (*)

Editor Ichwan Arif.