
Saat pertama digigit, teksturnya terasa kenyal, lalu perlahan gula merah hangat di dalamnya meleleh di mulut, menghadirkan rasa manis yang tak terlupakan.
Selawe.com – Ada satu pemandangan yang hampir selalu terulang setiap rombongan wisata singgah di kawasan Masjid Muhammad Cheng Hoo Pandaan, Pasuruan.
Selepas menunaikan salat, langkah para pengunjung seakan otomatis mengarah ke Pasar Wisata Cheng Hoo. Tujuannya pun sama, berburu aneka oleh-oleh khas, terutama klepon, jajanan tradisional yang menjadi favorit banyak wisatawan.
Pemandangan itu tampak saat rombongan Muhammadiyah Gresik Kota Baru (MGKB) yang terdiri atas 271 peserta dengan enam bus singgah di kawasan Masjid Cheng Hoo, Sabtu (1/8/2026).
Usai beribadah, para peserta memadati pasar wisata untuk membeli buah tangan sebelum melanjutkan perjalanan.
Di sepanjang jalan penghubung antara masjid dan pasar wisata, berjajar beberapa penjual klepon yang ramai didatangi pembeli. Salah satunya adalah Nur Hasan, pedagang klepon yang telah lama berjualan di kawasan tersebut.
Di atas lapak sederhana berukuran sekitar 1 x 1 meter, Hasan menata rapi kotak-kotak hijau bertuliskan Klepon Wahyu Rizky. Setiap paket berisi tiga kotak klepon yang dijual dengan harga Rp10.000, sehingga menjadi pilihan oleh-oleh yang terjangkau.
“Kalau akhir pekan, rata-rata bisa terjual sekitar 50 paket setiap hari,” ujar Hasan sambil melayani pembeli yang datang silih berganti.
Salah satu pembeli, Rusdiah Arifaini, S.Pd., guru Matematika SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB, mengaku hampir tidak pernah melewatkan kesempatan membeli klepon setiap kali berkunjung ke Masjid Cheng Hoo.
“Semua keluarga saya suka klepon, tetapi yang paling suka suami saya. Saya selalu membeli di Pak Hasan. Beliau ramah dan selalu melayani pembeli dengan senyum,” tuturnya sambil tersenyum.
Hari itu, lanjutnya, dia membeli dua paket untuk dibawa pulang.
Hal senada disampaikan Muhammad Syafiq Saviola Prihadi, S.Pd., guru Informatika Spemdalas. Ia membeli tiga paket sebagai buah tangan untuk keluarga.
“Alhamdulillah, sekalian bisa membawa oleh-oleh untuk keluarga. Kebetulan kami transit di Cheng Hoo, jadi saya manfaatkan untuk membeli klepon. Rasanya memang enak,” ungkapnya.
Tak hanya dikenal sebagai pusat wisata religi, Pasar Wisata Cheng Hoo Pandaan juga menjadi salah satu destinasi belanja oleh-oleh favorit di Jawa Timur. Lokasinya yang berada di jalur utama Surabaya–Malang membuat kawasan ini hampir tak pernah sepi pengunjung.
Beragam makanan khas tersedia di sana, mulai dari tape, aneka kerupuk, bipang, tahu takwa, pia, hingga berbagai jajanan tradisional. Pengunjung juga dapat menikmati aneka kuliner, beristirahat, beribadah di Masjid Cheng Hoo, sekaligus mengabadikan momen di sejumlah sudut yang menarik untuk berfoto.
Di antara beragam pilihan oleh-oleh tersebut, klepon tetap memiliki tempat istimewa. Kue tradisional berwarna hijau dengan balutan kelapa parut dan isian gula merah cair itu bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyimpan filosofi kehidupan.

Klepon
Dalam buku Nostalgia Kue Tenong karya Nimpuno (2016), klepon dimaknai sebagai simbol bahwa kepahitan dan kesulitan hidup akan berbuah manis apabila dijalani dengan kesabaran.
Saat pertama digigit, teksturnya terasa kenyal, lalu perlahan gula merah hangat di dalamnya meleleh di mulut, menghadirkan rasa manis yang tak terlupakan.
Barangkali itulah sebabnya klepon tetap bertahan lintas generasi. Di tengah menjamurnya aneka makanan modern, jajanan sederhana ini tetap menjadi buah tangan yang selalu dicari.
Bukan semata karena rasanya yang lezat, tetapi juga karena setiap gigitannya menghadirkan kenangan, kebersamaan, dan pesan sederhana bahwa setiap perjalanan yang baik selalu layak ditutup dengan membawa pulang sedikit rasa manis untuk orang-orang tercinta. (*)
Penulis Mochammad Nor Qomari. Editor Ichwan Arif.












